13.12.07

Maukah Engkau Jadi Pengamen?

Sekilas tadi pagi saya membaca sebuah artikel di majalah Cahaya Sufi kurang lebih isinya begini : Apakah kita mau jadi seperti pengamen? Yang ketika kita selesai menyanyi berharap segera diberi uang?

Tak terasa perilaku pengamen seringkali terjadi dalam setiap permohonan kita padaNya. Pengen setelah melantunkan pengharapan maka sesegera mungkin untuk diberi jawaban sesuai pengharapan kita. Bahkan jika belum juga diberi teriak-teriak dari luar pagar. Dan nggak etisnya lagi selesai diberi uang langsung ngeloyor pergi.

Ya … kadang pengharapan kita terlantun ketika sedang membutuhkan sesuatu. Kita berharap-harap sangat cemas. Pengen segala sesuatu itu sak deg sak nyek artinya pada saat diminta pada saat itu pula ingin dikabulkan. Padahal kata Mbak Neno Warisman, Bungkus kado Allah itu bisa dalam kertas koran, bisa dalam kertas HVS putih mulus, bisa dengan bungkus daun, bisa dengan kertas kado nan cantik, bisa juga dengan kain yang sangat kumal, bahkan bentuknya bisa besar, atau kecil, . Artinya bungkus kado itu bisa bermacam bentuk. Nah, sekarang tinggal mengatur mindset kita dengan kado itu. Apakah karena kekurang sabaran kita menghayati sehingga bungkus kado tadi menjadi penghalang kita untuk membuka isinya? Padahal saya yakin isinya pasti mutiara. Ya yang sering terjadi adalah kekurangistiqomahan kita dalam menyikapi bungkus kado sehingga mutiara yang mestinya tergenggam tertutup bungkus kado yang masih sibuk kita perdebatkan.

Kemana cinta yang kita dengung-dengungkan setiap hari, setiap detik, setiap saat? Bahkan sehari minimal lima kali kita bersumpah dihadapanNya "Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untukMu." Hmmhhh ngeri saya membayangkan sumpah itu dengan perilaku keseharian kita. Apakah setiap Adzan berkumandang kita tinggalkan segera aktivitas kita untuk mendirikan sholat?, Bagaimana dengan malam-malam kita? Bagaimana derajat puasa kita? Sudahkah hak-hak anak yatim dan fakir miskin yang Allah titipkan lewat rizki kita terpenuhi? Sudahkah hak-hak orang tua, suami/istri, anak-anak, saudara-saudara kita telah terpenuhi? Tak perlulah semua itu dijawab, karena sesungguhnya guru didalam dirimu telah menjawabnya secara otomatis.

Yang ada adalah perlakuan kita yang seperti pengamen tadi. Mengharap-harap sepertinya Tuhan itu jin yang baru kita gosok dari lampu ajaib, agar dapat memenuhi segala keinginan manusia. Padahal keinginan itu nafsu belaka. Allah lebih tahu tentang kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Sehingga sebenarnya tak perlu kita berlaku bagai pengamen tak tahu diri. Sudikah engkau menjadi pengamen itu?

Pacar Kembang

8 Nop 2007

baca selanjutnya...

Tebas Saja Leherku

Tebas Saja Leherku

Jika Engkau memang mengutukku


 

Tebas Saja Leherku

Jika engkau memang melaknatku


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang aku tak pantas mencintaiMu


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang aku tak pantas menatap wajahMu


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang malaikat tak Kau ijinkan

Mengangkat do'aku


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang Ramadhan tak bersisa buatku


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang tak pantas kuhadiri jamuanMu


 

Tebas Saja Leherku

Jika memang aku tak pantas mengais Lailatul QadarMu


 

Tebas Saja Leherku…..


 

Jika itu masih tak cukup

Potong-potong jariku, cungkili mataku, belah dadaku

Atau cincang sekalian tubuhku….


 

Jika itu penggugur laknatMu

Jika itu penggugur murkaMu

Jika memang itu syarat mencintaiMu

Jika memang itu penggadai jiwaku padaMu

Jika memang itu tumbal cintaku padaMu

Jika hanya itu penebus keindahanMu

Jika itu sebab Engkau menoleh padaku


 

Dan jika semua itu masih mengundang murkaMu, laknatMu

Habisi saja diriku

Hingga menjadi senoktah debu

Biarkan hilang…

Agar kutak menjadi sampah cintaMu


 

23 Ramadhan 1428 H

baca selanjutnya...

INILAH KUMPULAN PRASASTI TEMEN_TEMEN YANG NGINGETIN ULTAH SAYA

MIlad hanyalah sarana pengingat saya untuk sejenak berhenti mencharge spirit, dan untuk menata langkah kedepan yang semoga lebih bermanfaat. Momen Ramadhan mengingatkan saya akan hari kelahiran saya pada saat itu. Sebab jika menurut penanggalan HIjriyah saya lahir pada 27 Ramadhan, hari yang sangat istimewa menurut saya.


 

Semoga hanya cintaNya yang akan melapangkan jalan saya untuk hidup dan mati. Bi barakatillah..


 

Dan tulisan-tulisan dibawah adalah apresiasi dari saudara-saudara saya yangsemoga Allah mengekalkan ikatan persaudaraan kami dalam samudera cintaNya. Semoga hanya dalam tali rahman dan rahimNya kami dipersatukan… Amin…Allahumma Amin .. terima kasih buat semuanya… Allahlah yang paling pantas membalas sebentuk cinta yang kalian hadirkan di hari ini khusus untuk saya…


 

yulita affandi: hai, pren, assalamu'alaikum...

yulita affandi: kayaknya ada yang lagi ultah yo?

siu: waalaaikum salam wr wb

siu: sapa ya?

yulita affandi: yo iku....

yulita affandi: mau minta traktiran nih.....

yulita affandi: 2 oktober, sopo yo?

yulita affandi: semoga, arek sing lagi ulang tahun iku, gak melarikan diri dari perbuatan yang menyenangkan... (nraktir aku) hii...hiii....

siu: hihihi...

yulita affandi: oke sist.... ditraktir ato enggak... limpahan do'a dan harapanku, tetap mewarnai hari jadimu ini... semoga beroleh umur yang barokah, panjang usiamu, semoga penuh dengan ketaatan hanya padaNya, semoga makin sakinah rumah tangga dan keluargamu.... apapun yang antum citakan, semoga dapat terwujud... dan semoga cinta Allah dan ridho'Nya tetap membasahi setiap langkah yang diayunkan...

siu: amin Allahumma Amin...

yulita affandi: terakhir... semoga pertemanan kita tak akan pernah lekang dimakan jaman... tak hangus ditelan waktu.... I love you sist! semoga allah mengabulkan...

siu: Amin YA Allah

siu: malaikat insyaallah akan mengangkat do'a tulus seorang sahabat yang dilantunkan dengan ketulusannya...jazakillah khairan katsira

yulita affandi: you kow what? jilbabku basah!

siu: aku juga..aku malu sama temen sebalahku....


 

sinta nisfuana: met milad mbk siwi...berkurang sudah setahun hidup di dunia

siu: ya nih tambah tuwa...

siu: syukron ya Sist...


 

Novi Ningsih:

Novi Ningsih:

Novi Ningsih: hope d BEST 4 you..........

siu: jazakillah Sist...Amin...

INDARWATI HARSONO wrote:

Ass. Sist...
Met ultah ya... Semoga hari ini ...(aduh, gue kok jadi speechless gini ya mau berdoa)
Pokoknya yang baik-baik aja deh. Ntar aku merangkai kata yang romantis di rumah aja. Keburu njemput Ais nih. Kalau nggak ingin dia pulang sendiri lagi. :( Mana di rumah nggak ada orang lagi! Eh, kok malah jadi curhat?

Pokoknya, sahabat Eska silaken ikut ngedoain mbak Siwi deh!
salam,
Indar
yang pernah sekamar dengan Bunda Gangga n Gautama

Pak Teha Sugiyo Eska said :

happy birthday to U 100x
selamat ulang tahun mbak siwi
semoga panjang usianya, banyak rezekinya, bahagia hidupnya.
amiiin.

SELAMAT ULANG TAHUN
Smoga Panjang umur, sehat, banyak rejeki, SEGERA tercapai segala impian dan cita-citanya, Jadi "Mom" yang Bijak & Cerdas untuk buah hatinya, jadi Istri terbaik untuk miswa-nya, Amiiiiiiiin

Tiup lilin-nya kapan??
ditunggu yaaa......

Enggar Retnoningsih
Surabaya
http://www.BinaCend ikia.com 

---- Original Message ----
From: fiyan arjun <paman_sam2@yahoo.com>
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 2, 2007 7:13:36 PM
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] SiuElha Ultah Saudara-saudara!

met bahagia ya Mbak??

met milad aje...

tambah tua neh....

sukses selalu

semoga makin bijak

 Ila Liqo

Peace, Love N Respect

 
 

Wassalam

Fiyan Arjun

http://sebuahrisala h.multiply. com

--0858.8585. 8160—


 

---- Original Message -----

From:
ugik madyo

To:
sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com

Sent: Wednesday, October 03, 2007 7:43 AM

Subject: Re: [sekolah-kehidupan] SiuElha Ultah Saudara-saudara!

Maaf baru tahu... kalau Maknya para Bidadari SK Jatim Ultah... :D
met milad ya Mbak
semoga umur yang tersisa selalu mendapat berkah Allah dan terhindar dari segala kemunkaran
semoga selalu yg terbaik dan terindah buat Mbak Siwi ku Chayang >:D<


 

----- Original Message ----
From: Euis <euis@pci.co.id>
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, October 3, 2007 8:20:36 AM
Subject: Re: [sekolah-kehidupan] SiuElha Ultah Saudara-saudara!


Amin....Amin. ...Amin.. ..

 
 

Sy hanya bisa meng-Amin-kan untuk setiap do'a kebaikan yg terpanjat...

 
 

Semoga Allah SWT memberikan sisa umur yg panjang dan berkah, Mbak Siwi dan keluarga senantiasa dlm limpahan RahmatNya... .Amin....

 
 

 
 

Salam,

Euis


 


 

20 Ramadhan 1428H /02 Okt 2007
inilah postingan paling narsis yang pernah saya buat, tapi gak pa pa sekali-kali boleh narsis, karena saya punya temen-temen yang istimewa...

baca selanjutnya...

14.9.07

Berkaca Pada Mbak Farid

Kami mempunyai seorang pembantu yang sudah tak kami anggap pembantu lagi, sudah seperti saudara sendiri. Namanya Mbak Farid. Dia sudah ikut kami sekitar dua tahund an sebenarnya sekitar 3 bulan yang lalu dia sudah minta ijin pulang terus karena dipanggil pulang oleh Ibunya di Jember , dengan berat hati kami mengijinkan, tapi dengan syarat kami udah dapat gantinya dia sehingga bisa belajar pekerjaan rumah dari nya. Alhamdulillah dia mau.

Dan ketika sebulan yang lalu ketika kami kebingungan mencari mbak baru kami minta tolong untuk balik bantu-bantu kami, dia mau kembali . Karena si mbak yang baru ternyata nggak kerasan sampai kami kebingungan lagi mencari mbak baru. Susah banget cari mbak baru, sampai akhirnya ada seseorang atas rekomendasi pamanku di Trenggalek yang mau. Saya sempat ketemu sama si mbak sebut saja Lina ini, dia mau dan kelihatan sekilas tipe-tipe Mbak yang rajin dan telaten sama anak-anak kecil. Esok harinya Minggu sore ketika saya mau balik ke Surabaya kami harus menjemput Mbak Lina dulu, ternyata bapaknya nangis-nangis bilang anaknya nggak diijinkan untuk berangkat, aduh..gimana nih…padahal saya sudah cuti satu minggu kemaren dan besok harus ngantor lagi. Akhirnya ditengah keputusasaan, kami mencoba menelpon Mbak Farid, Alhamdulillah melalui negosiasi dan ijin ke kakakknya akhirnya dia mau dateng lagi besok, Alhamdulillah..minimal satu masalah terpecahkan sehingga sedikit bisa mengulur waktu mencari Mbak yang baru lagi, karena dia memberi batas waktu selepas Ramadhan ini dia mau balik terus lagi.

Kemaren waktu di a gajian, biasanya uang gajian dititipkan pada kami, dan jika sewaktu-waktu ia membutuhkannya ia akan minta seperlunya. Walaupun kebiasaan gajinya dititipkan pada kami, namun tiap bulan kami selalu menanyainya, barangkali dia butuh. Seperti kemaren ketika kami menyakannya apakah gajinya diambil atau dititipkan? Ia jawab, mau diambil sebagian, separo lebih sedikit, dan selebihnya dititipkan pada kami tapi dengan sedikit takut-takut dia bilang bahwa sisa gajinya dititipkan untuk diberikan pada anak yatim. "Sisa Semuanya?" tanya kami. "Iya," jawabnya. YA separoh kurang sedikit gajinya diperuntukkan anak yatim. Subhanallah….. Saya dan suami sampai terdiam agak lama dengan pikiran masing-masing. Rasanya saya malu banget, di hari kedua Ramadhan dia sudah memikirkan untuk menyantuni anak yatim, dengan hampir separo gajinya. Disaat saya masih ribut dengan persiapan Ramadhan, persiapan Hari Raya yang jujur rasanya nggak prinsip banget. Malu sekali Ya Allah….Dia yang notabene berpenghasilan lebih kecil dari kami sudah sebegitu pedulinya terhadap anak yatim. Duh rasanya nikmat dan kemuliaan Ramadhan ini layak untuk Kau persembahkan kepada orang-orang yang seperti ini Rabb…Rasanya saya tak ada apa-apanya….Boro-boro mikirin nyantuni anak yatim di hari kedua Ramadhan, apalagi dengan separoh gaji, Astagfirullah ….

Alhamdulillah hari itu telah Kau ingatkan kami atas kelalaian kami Rabb, dengan cara yang sangat indah…Hanya Engkau Rabb yang mampu membalas cinta yang luar biasa itu…Hanya Engkau yang mampu dan layak untuk membalasnya. Bi Barakatillah….

2 Ramadhan 1428 H/ 14 Sept 2007

Yang semoga tergugah ditengah menikmati pelajaran indah.....

baca selanjutnya...

13.9.07

Puasa Pertama Mas Gangga

Ramadhan kali ini menjadi momen pertama puasa Mas Gangga, anak pertamaku yang usianya 5 tahun. Sebenarnya tak ada target untuk dia, hanya kemaren dengan sedikit dialog saya berhasil menyemangati Mas Gangga untuk puasa. Tapi tetep saja ada kekhawatiran dia belum menetapi janjinya seperti tahun kemaren. Paginya bilang semangat mau puasa..eh malemnya pas dibangunkan untuk sahur dia ogah. Kecewa juga akhirnya, bahkan targetku untuk membuat Mas Gangga ikut bangun sahur aja nggak pernah keturutan. Sedih!

Maka untuk tahun ini aku benar-benar tak memasang target, takut kecewa seperti tahun kemaren, bahkan pembekalan Ramadhan di sekolah Mas Gangga dengan terpaksa tak kuhadiri, karena pas hari kerja. Dialog kemaren sebelum Mas Gangga sekolah juga singkat aja, dia juga bersedia bangun untuk ikut sahur dan puasa. Dan sepulang dari kantor kucoba untuk meneguhkan komitmennya untuk berpuasa, dengan semangat ia bilang "Iya Bunda aku mau ikut puasa!" semangatnya dia. Tapi tetep aja ada sedikit kekhawatiran, tapi dengan iringan do'a di hati kutepis kekhawatiran itu.

Waktu sahur tiba, dengan sedikit berharap, kucoba bangunkan Mas Gangga,

"Mas Ayo bangun katanya mau semangat ikut puasa?, Ayo cengklek yo?, rayuku sambil membuka selimutnya.

Dengan sangat ogah dia berusaha menarik selimutnya, "Ayo, Anak sholeh!" Ajakku lagi dengan sedikt "memaksa" Kali ini dia bangun dan mau kugendong di punggung tapi aku disuruh bawa gulingnya. He..he..he.., nggak papa deh demi sebuah tujuan, kucoba turuti apa keinginannya, selama dalam koridor baik. Jadi kugendong dia di belakang sambil tanganku membawa gulingnya.

"Mas Gangga mau makan apa?" Saya tahu oseng-oseng kacang panjang ditemani kecambah dan jagung muda menu sahur kami tak akan menarik perhatiannya. "Mau telor ceplok ya?" tawarku, dia mengangguk lemah karena masih mengantuk.

Perlu perjuangan dan negosiasi tingkat tinggi yang dibarengi kesabaran ekstra untuk membujuk Mas Gangga mau makan sahurnya. Sebelum makan dia minta dibuatkan teh manis, "Oke Sayang apapun yang kau minta selama Bunda masih bisa beri akan saya beri asalkan kamu mau belajar puasa ya Nak, Bi barakatillah?!" bisik hatiku.

"Bunda aku ngantuk!" rengeknya, Nah tuh kan! ujian baru dimulai Bunda, keep fight!!

"Iya Sayang Bunda ngerti, tapi kalau pengen dido'akan sama Malaikatnya Allah Mas Gangga harus makan sahur, juga biar besok bisa kuat puasanya, Sabar ya Sayang, nanti abis sahur boleh tidur lagi," rayuku.

"Tapi aku capek!, Gatel nih punggungku, bla..bla..bla.."mulai rentetan rengekannya, yang akhirnya hampir membuat saya menyerah!

"Ya sudah kalau Mas Gangga belum siap puasa, belum siap disayang Allah, belum siap jadi anak sholeh, boleh!, Bunda tidak melarang, ya udah Mas Gangga boleh kembali tidur!" tegasku, walaupun sejujurnya hatiku menangis. Bahkan ketika harus mengambil piringnya yang telah terisi nasi dan lauk serta menyambar mugnya yang berisi teh saya benar-benar menangis dalam perjalanan ke meja makan.

"Ya Allah harus bagaimana lagi, apa saya harus 'kalah' lagi?, Apa kataMu Ya Rabb!! Saya menyerah … Saya memang tak memasang target, tapi begitu saya merasa akan 'kalah' lagi, ternyata tetap terasa mengecewakan.

Akhirnya kuselesaikan sahurku, sambil kumainkan jurus "melengos" (baru kubaca kemarin di milis) dengan hati yang harap-harap cemas. Seorang anak akan lebih sengsara ketika ia merasa dicuekin sama orang tuanya daripada ketika memarahi dengan mengomel-ngomel. Sampai saya selesai sahur belum ada tanda-tanda dia "sengsara" . Akhirnya dengan hati kecewa berat "Yah kalau ini memang keputusanMu Rabb, saya akan coba ikhlas!" saya masuk ke kamar untuk meneruskan tadarus sambil menunggu Imsak.

Ketika beberapa ayat selesai kubaca, terdengar tangis di luar. Kuhentikan bacaanku.

"Aku mau makan,….aku mau makan….Bundaaaa!!" teriaknya ditengah tangisnya yang mulai keras.

Saya keluar dari kamar, memandangnya sejenak, menghilangkan emosi, "Mas Gangga yakin mau puasa?" tanyaku tak ingin berharap lebih. "Ya Bunda, "isaknya. Kupeluk tubuh mungil itu, kulantunkan shalawat di ubun-ubunnya, Semoga Allah membarakahimu Nak, do'aku dalam hati.

Kuambil piring yang tadi kuletakkan dimeja, dan dilahapnya menu sahurnya, dengan hati lapang.

"Semangat ya Nak, nanti Bunda punya sesuatu buat anak sholeh yang rajin puasanya," dia layak mendapatkan rewardnya. Setelah kesadarannya muncul baru reward kuberikan, agar ia merasa dihargai. Reward tidak akan kuberikan sebagai bahan rayuan, seperti "Ayo puasa nak, nanti Bunda beri hadiah" Kami dengan sangat menghindari reward semacam itu. Esensinya sangatlah beda, ketika ia mau melakukan suatu kegiatan dengan kesadaran penuh lalu diberi reward atau ia mau melakukan kegiatan karena ada reward.

Pagi itu dia memulai puasanya, dan ketika kutinggal mandi dia sedang main dengan adik di dalam mobil. Ketika saya sedang berganti pakaian di kamar kudengar Omnya (adik suamiku) "Lho katanya puasa, makan apa itu dimulut?" tanyanya. "Permen," jawabnya polos. Oalah …dia mungkin lupa. Segera kudekati, "Bener Mas Makan permen?" Ia hanya mengangguk "Adik sih…makan permen jadi aku ikutan!" Ini juga keteledoran kami yang lupa menyimpan persediaan permen di mobil begitu puasa tiba. Dalam hatiku aku ketawa keras, tapi berusaha tak kutampakkan takut ia malu.

"Oke, karena Mas Gangga lupa, puasanya boleh diteruskan tapi lain kali gak boleh ya?"sambil memeluknya. Oalahhh ada-ada saja Mas ini!!


 

1 Ramadhan 1428 H/13 Sept 2007

Mohon do'anya agar ia mampu menikmati puasanya.

baca selanjutnya...