26.9.06

Milad Mas Guruh


Ada..gundah…resah…yang merekah
Aku sakit….
Aku luka….
Ada caci yang terlanjur terucap…
Ada kata yang terlanjur tertulis…
Ada luka yang terlanjur ditoreh….
Sakit….
Ngilu….
Pusing…..
Diammm
Biar diammmm
Yang sanggup redam
Yang sanggup melerai
Segala deru..
Dendam…
Walau mampu untuk meletus…meledak


Kalau rindu berbalas perih….
Biarkan diamm yang mengurai…
Segala sakit…
Segala luka…
Perihh…

Kalau ada bahagia ..
Jangan terlena…
Karena bisa jadi
Itu lubang yang menganga
Yang akan melahapmu
Dalam semu…

Biarkan bahagia menjadi hiburan dunia.
Dengan satu makna…
Untuk pengukuhan dalam pencarian

Jalan dunia
Memang harus ditapaki
Walau kadang sakit, lelahh…

Tapi biarkan saja
Toh memang harus dijalani
Untuk sampai..
Pada satu titian…
Yang abadi..

Ruku’ Sujudlah bersama semesta raya…
Untuk pulang …
Untuk damai…
Untuk menegaskan bahwa …
Kitalah yang titik debu pada semestaNya…


Surabaya, 12 Juli 2006
Semoga tertangkupnya tanganku dan jari-jari mungil malaikat2mu dalam untaian do’a di subuh tadi, lebih indah dari sejuta kado di hari jadimu..
Apapun dan siapapun engkau, aku sangat mencintaimu, karena engkau lelaki pilihanNya.
Engkaulah separuh nafas yang menyemangati hari-hariku untuk menapaki jalan cintaNya..
Semoga Allah swt memanjangkan usiamu dalam kebarakahan dan keridhoanNya..

baca selanjutnya...

5 tahun Pernikahan

Medio, 12 maret 2006
Rasanya baru kemaren para malaikat menyaksikan kami mengucap Mitsaqon ghalizho
Rasanya baru kemaren perjanjian dengan tuhanku ku ikrarkan,
Rasanya baru kemaren, separuh dien ku itu kutunaikan
Rasanya baru kemaren………………

Ternyata 5 tahun tanpa terasa
Kudampingi seorang yang istimewa
Membawa kehidupan ini, membawa rajutan cinta ini

Ya Allah Sang Maha Pemberi Harapan, ijinkan aku berharap padanya

Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat ia bangga
berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintai-Mu,
sehingga aku dapat mencintainya dengan cinta-Mu, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat-Mu yang lembut sehingga kelembutanku datang dari-Mu bukan dari diriku
Berikanlah sifat-Mu yang Indah sehingga keindahan & kecantikanku datang dari-Mu bukan dari diriku
Berikanlah aku penglihatan-Mu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja
Berikanlah aku mulut-Mu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaan-Mu dan pemberi semangat,sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap saat

"Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku
seorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".
Semoga kelak di hari perhitungan ia bersaksi dihadapanMu bahwa telah kutunaikan tugasMu mendampinginya dalam indahnya melebur dalam cintaMu

Ya Allah Sang Maha Pemberi Harapan, ijinkan aku berharap pada malaikat-malaikat kecil amanahMu

Ijinkan aku merengkuh tanganMu agar aku selalu berdoa untuk mereka
Perciki aku dengan kekuatanMu agar aku dapat mewakiliMu menjaga malaikat-malaikat kecilku
untuk tumbuh dalam Rahman Rahim-Mu
untuk berjuang dalam kesucian dienMu
dan untuk mati dalam membelaMu
Demi DiriMu, Demi Zat Yang jiwaku terangkum dalam genggamanMu,….. aku bersumpah
Aku ingin mereka kelak berterimakasih kepada kami orangtuanya…..
BUKAN Karena harta mereka yang melimpah, BUKAN karena derajat mereka yang tinggi di hadapan makhlukMu, bukan karena pangkat dan kehormatan yang berada di pundaknya,
bukan pula karena kebaikan-kebaikan kami…
Namun Ya Allah
kami hanya ingin menyaksikan kelak di hadapanMu mereka bersaksi dan bersumpah
bahwa kami telah mewakiliMu menuntun mereka pada sifat-sifat AgungMu
Dan bahwa kami telah menyampaikan CintaMu
Sehingga hidup mereka, jiwa mereka, dan mati mereka …..
Hanya untukMu
Dan Engkaupun ridho atas kami dan seluruh keturunan kamiAmien.Maka nikmatMu manakah yang sanggup untuk aku dustakan?


Mensyukuri nikmat 5 tahun pernikahan kami
Kepada anugerah terbesar dan terindahku, hanya Ia yang mampu membalas atas kenikmatan cintamu
Dan kepada malaikat-malaikat kecilku dan seluruh keturunanku teruslah untuk menyapaku dengan keindahanNya karena itu adalah sumber semangatku

baca selanjutnya...

Sepakbola dan bonekmania

Walaupun saya seorang kaum hawa boleh dong menikmati sebuah permainan bernama sepakbola.Yap… Saya memang pecinta olahraga yang satu ini. Kecintaan saya pada bola bukan karena sebuah fanatisme. Saya suka ya suka. Suka dengan permainan menggiring bola yang cantik. Demi memasukkan bola ke gawang lawan mereka harus membuat sebuah strategi yang cerdik, mengoper bola, menggiring bola, ngelesin lawan, ngotot berlari, dan dengan satu tendangan yang kuat ….ceploslah bola ke gawang lawan. Saya sering menikmati nonton bola dengan suami, sinambi kalaning nganggur. Yang unik saya suka dengan bola, namun nggak tau nama-nama pemainnya. Afdholnya kan kalau suka bola juga harus tau nama-nama pemain-pemainnya apalagi yang top-top. Si Anu main di tim ini, si fulan main di liga ini, eksetera…Tapi buat saya peduli amir harus tau nama-nama klub ato pemain. Saya hanya suka permainan yang disuguhkan. Dan enaknya nonton bareng suami, dia yang jadi penerjemah, oh ini Kaka…bla..bla..dan sayapun hanya manggut-manggut. Namun sekali lagi bagi saya, yang main siapa dan di klub apa itu gak penting, yang saya suka ya permainan bola itu sendiri. Sejatinya saya memang suka sport dan yang penting sport yang dilandasi sportivitas. Mungkin itu yang bedain saya dengan bonekmania. Saya suka Persebaya, walaupun saya bukan aseli orang Surabaya. Saya cukup mengikuti perkembangan Persebaya yang sekarang di manajeri seorang wanita, saya selalu ingin tahu skor terakhir walaupun saya nggak nonton full time karena kesibukan. (Kalau sepakbola luar negeri jam tayangnya kan sering malem-malem disaat aktivitas sudah kelar, sementara kalo sepakbola lokal biasanya sore-sore bahkan jam Maghrib, pasti jam segitu jam-jamnya orang sibuk kan?). Makanya sedih juga ketika kemaren Persebaya harus tersingkir dari babak delapan besar Copa Indonesia, dan tersingkirnya dengan tidak hormat gitu. Sedihh abis !!Dulu Persebaya bisa besar juga atas dukungan fanatisme bonekmania. Namun sedihnya sekarang Persebaya juga harus hancur (menurut saya) oleh ulah fanatisme pendukungnya. Saya yakin yang ngrusak bukan pendukung sejati Persebaya, yang main bakar bukan fans Persebaya, yang berbuat premanisme bukan pecinta Persebaya. Kenapa kita nggak bisa dewasa-dewasa sih?Sedih, sebel, gemes, marah…nggak tau deh!Kenapa bonekmania jadi kebangeten banget.Ah..kenapa bunda jadi sewot ya? Yah..Saya hanya orang awam sepakbola yang ingin melihat iklim sepakbola kita sejuk. Pengen melihat prestasi sepakbola kita, mimpi pengen suatu hari tim Indonesia main di piala dunia. (Mimpi kali ye) Yah..kalau wajah persepakbolaan kita masih coreng-moreng memang kita hanya akan bermimpi melihat bola piala dunia dimainkan tim Indonesia.

19 September 2006
Semoga mimpi itu bisa menjadi kenyataan, someday

baca selanjutnya...

Orang “Nyentrik”




Tadi malam ada tamu dirumah. Jujur tamu ini sering kami nantikan, karena banyak mutiara hikmah yang bisa kami petik dari kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya. Nyentrik kata orang, tapi dia orang sholeh bagi kami. Jiwanya telah tergadai untuk berniaga denganNya. Selain dia yang ke rumah tak jarang kami juga bertandang kerumahnya, keluarga yang sederhana, tapi keharmonisannya memancarkan cahayaNya. Dulu dia pernah keluar dari pekerjaannya karena ada satu hal yang prinsip yang tak mungkin dia langgar, akhirnya mengundurkan diri demi sebuah prinsip. Secara manusiawi kami menyayangkan kejadian itu, bayangkan dia harus menghidupi empat orang anaknya dan seorang istrinya. Namun tau jawabannya tentang hal itu?
“Sungguh janji Allah tidak membagi pekerjaan kepada hamba-hambaNya, namun membagi rezeki bagi yang mengharap cintaNya.”
Subhanallah…
Sering dia di datangi orang-orang yang minta tolong untuk kesembuhan keluarga atau mereka sendiri. Dan pernah kami “protes” kenapa mau jadi dukun?”.
Dia ketawa, katanya “Lho memang kenapa?”
“Saya bukan dukun, bukan paranormal, saya hanyalah hamba Allah yang hina,” jawabnya.
Dan atas ijin Allah memang banyak orang-orang yang datang kepadanya kembali dengan ucapan terima kasih yang tiada hingga.
Suatu ketika ada orang datang memintanya untuk melihat seorang keluarganya yang sakit parah, dia hanya ‘diam’ tafakur, dan kemudian meminta orang itu segera pulang, “Semua keluarga menantimu” katanya. Akhirnya orang tersebut pulang dengan sedikit kecewa, namun ternyata belum sampai dirumah dia sudah ditelepon bahwa si sakit telah meninggal. Pernah kami bertanya, dari mana dia belajar ilmu “itu?”? Dia jawab, “Siapa yang belajar ilmu?” Terus bagaimana menyembuhkan mereka yang datang meminta pertolongan? Jawabnya, “Kadang kalau saya diajak kerumahnya dan ada ‘perintah’ untuk datang, ya..saya mau..dan ketika dijalan tiba-tiba saya menemukan sesuatu yang aneh dan saya ‘diperintah’ untuk mengambilnya ya..saya ambil…tiba-tiba ada daun yang bersinar saya ambil..dst. Sesampai di rumah orang itu saya lagi-lagi diperintah untuk memasukkan daun tadi kedalam air, ya.. saya lakukan. Ketika saya di’perintah’ untuk meminumkan pada si sakit, ya.. saya minumkan. Kalau sesudah itu saya di perintah pulang ya saya pulang. Tanpa menunggu apakah dia sembuh atau tidak. Sekali lagi saya bukan dukun atau paranormal, saya hanya hamba yang dhoif dan berusaha menjalankan perintahNya, tanpa reserve. Kalau dia kemudian datang kerumah dan menginformasikan bahwa si sakit telah sembuh, adakah rasa yang paling membahagiakan selain mendengar pertolongan Allah lewat kita ternyata bermanfaat buat orang lain?.
Subhanallah..
Menceritakan dia seakan tidak ada habisnya. Lalu kami pernah pula menanyakan bagaimana anda yakin bahwa ‘perintah-perintah’ itu datangnya dari Allah? Jawabnya sambil terdiam dan menunduk, kalau hatimu telah melebur dalam dzikir yang tiada henti, kalau cintaNya telah merampas mata hatimu, kalau cahayaNya sudah mengaliri seluruh sel-sel darah di dalam tubuhmu, jika engkau yakin atas pertolongan dan kehendak Allah, apakah engkau mesti ragu? Ibrahim pernah diperintah menyembelih putra tercintanya, saya yakin kalau bukan karena cintanya pada Yang Maha Segalanya, kalau bukan bukti kehambaannya padaNya, sungguh peristiwa Qurban itu tak akan pernah ada. Lambang cinta Ibrahim itu tak akan dikenang sampai sekarang. Apakah kita masih ragu bahwa pertolongan Allah sungguh dekat, lebih dekat dari urat nadi leher kita.
Subhanallah semua yang mendengar menangis.
Ya kami menyaksikan sendiri keluarganya dapat hidup layak, tidak pernah kekurangan, hanya yang satu ini kami tak sanggup menanyakannya darimana ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pernah juga ia cerita hanya pada kami, itupun karena dia menanyakan pada kami suatu peristiwa, dan kami mendesaknya untuk bercerita. Saat itu saat yang sangat genting karena ia harus membayar biaya daftar ulang sekolah anaknya, sekitar lima ratus ribu rupiah kurang lebih. Dia juga bingung, tak terpikir olehnya untuk meminjam pada sahabat-sahabatnya, termasuk kami. Dia hanya ‘diperintah’ diam. Dalam diamnya dia hanya sanggup memohon dan berdo’a pada Allah . Saat itulah keyakinannya tentang Cinta Allah diuji.
Dan… Subhanallah, pagi harinya di depan pintunya tergeletak sebuah amplop tebal, berwarna coklat ketika di buka isinya uang 500 ribu rupiah. Persis seperti yang dia butuhkan saat itu. Bisa jadi ini perbuatan sahabat-sahabatnya yang nggak mau ketahuan, tapi kok tahu persis jumlah yang dibutuhkannya? Bisa jadi kebetulan. Tapi adakah kebetulan yang tidak lepas dari iradah Allah? Ketika dia menelepon satu-persatu temannya, jelas gak ada yang mau mengaku, atau barangkali memang tidak pernah meletakkan amplop itu di depan pintu rumahnya. Barangkali uang itu jatuh dari langit? Wallahua’lam bisshawab. Biarkan itu menjadi rahasia Allah. Yang patut kita ambil pelajaran dari itu, Masihkah kita meragukan cinta kasih dan Kemahaluasan Allah?
Satu hal yang dia pesan, Walillahil masyriku wal maghribu fa’ainama tuwallu fatsamma wajhullah. Dan kepunyaan Allahlah barat dan timur kemanapun wajahmu menghadap disitulah WajahNya terlihat. Bacalah dengan nama Tuhanmu, bukan matamu yang buta tapi hatimu didalam dada.

Salam 165
Didedikasikan kepada seorang sahabat, guru, orangtua, Pakdhe, Di Setro
Allahlah sebaik-baik pembalas Cinta yang telah kau tebar kepada kami.

baca selanjutnya...

Sepenggal Kisah Di Suatu Petang

Sepenggal Kisah di Suatu Petang (disuatu bulan ditahun 2005)

Petang itu, selesai sholat Maghrib, sepulang aku dari kerja, seperti biasa anakku yang masih semata wayang mulai “unjuk gigi” minta dibacain buku, minta dijelasin gambar-gambar mobil kesukaannya, minta disetelin lagu-lagu, disetelin teletubbies, mimik susu, pipis, dll.
Saya sangat mahfum kalau dia jadi “sedikit” over acting ketika ayah bundanya pulang dari kerja. Karena seharian penuh telah ketinggalan haknya untuk menjalin kebersamaan dengannya. Kejadian petang itu menyisakan sesal yang cukup dalam bagiku, karena aku telah melukai perasaannya.
Setelah cukup lama meminta ini-itu ia lalu menenteng-nenteng sebuah buku, dan mulai asyik membuka-buka buku Yellow Pages didepanku.
Dan mataku ganti terpaku oleh tayangan televisi di depan kami. Ia mulai berceloteh lagi, “Mobil apa?,mobil apa?”, sambil melirik gambar yang ditunjuknya kujawab sekenanya, tanpa memandangnya. Kembali aku berasyik-masyuk dengan layar kaca didepanku. Televisi memang lebih colorfull, sehingga konsentrasiku beralih ke kotak ajaib itu.
Lama aku menatap layar televisi itu, sehingga ketika aku tersadar kembali karena tayangan itu terganggu iklan, aku terhenyak… astaghfirullah ….ketika kulihat wajah memelas anakku yang memandangiku dengan penuh kekecewaan. Aku melihat sorot mata itu terluka, karena sesaat tadi ternyata aku, bundanya sedang tidak memperhatikan dia, padahal tadi memang lamat-lamat (karena aku memang lagi asyik dengan televisiku) kudengar ia berceloteh dengan riangnya. Aduh rasanya aku seperti tertohok dengan pandangannya. Dia seolah memprotesku dengan sikapnya itu. Yang membuat aku semakin trenyuh adalah cara protesnya yang tidak dengan tangisan, tidak dengan kata-kata, tidak dengan teriakan khasnya kalau lagi ngambek, atau dengan gulung-gulung protesnya ketika ia dilarang sesuatu. Namun dia memprotesku dengan pandangan polosnya, seolah mempertanyakan padaku.
“Bunda, apakah yang sedang kau lihat sehingga sesuatu itu jadi lebih menarik dari diriku?”,
“Bunda, setelah seharian bekerja, tidak adakah sedikit waktu untuk kita bercengkerama?”
“Bunda, mestinya setelah seharian aku ditunggui mbak, seharusnya malam hari adalah saat kita bersua, jadi bunda jangan terpaku nonton TV, baca koran, atau malah ngobrol dengan tetangga?”
Mungkin saat itu ia terluka dalam perasaannya, karena aku mengabaikannya, sehingga ia tak sempat mengeluarkan cara protes khasnya. Segera kupeluk ia dan kubisikkan lirih ditelinganya”Maafkan bunda, sayang…bunda khilaf” Mataku pun berkaca-kaca.

Astaghfirullah, YA Rabb …ampuni saya, karena masih terlalu banyak yang belum bisa kulakukan untuk amanahMu, saya masih sering tertatih-tatih memaknai ayatMu yang ada di depan mata ini. Ketika masih banyak saudara-saudaraku memimpikan untuk memperoleh anugerahMu yang indah, anak-anak, maka disaat yang bersamaan saya masih mengabaikannya, saya masih sering melukainya, saya masih sering melalaikan haknya.Duh .. Rabb beri kami kekuatan, beri kami bimbingan, karena sebesar apapun yang mampu kami berikan untuk anak-anak kami, keputusan terakhir ada pada RidhoMu. Rabb… Jagalah ruh dan jiwa kami agar Kau beri kekuatan untuk mengantarnya menjadi mujahid-mujahidah kekasihMu, agar mampu mengantar mereka menemukan keindahan CintaMu. Semoga seberat apapun perjalanan hidupnya, hanya cahayaMu yang senantiasa meneranginya. Amien.

Pencerahan sejenak itu akhirnya, mengantar kami menemukan malam yang indah, televisi kumatikan, kami kemudian asyik bercengkerama lagi, menggambar ikan, bola, berpelukan ala teletubbies, bernyanyi, bergulung-gulung, main tebak-tebakan gambar hewan-hewan, bergurau, sampai ia kelelahan, lalu minta mimik susu dan bobo. Akhirnya kami baca do’a sebelum tidur bersama dan sejenak kemudian dia terlelap dengan senyuman tanpa dosanya. Subhanallah…Rabb sungguh tak pernah sia-sia Engkau menciptakan segala sesuatu.


Kupersembahkan kepada Mas Gangga,Yang tiada pernah bosan untuk menyentuh bunda tentang keindahan ayat-ayatNya, lewat tawamu, tangismu, senyumanmu bahkan jari-jari mungilmu.

baca selanjutnya...

Mengajari Anak Membaca


Iqra’. “Bacalah”
Ayat pertama yang diturunkan oleh Allah melalui AlQur’an, namun seringkali ayat ini terabaikan. Terutama kepada anak-anak kita. Para Orangtua berasumsi bahwa mengajarkan membaca pada anak dimulai nanti kalau mereka sudah sekolah. “ Kasihan, dunia mereka masih dunia bermain”. Kalau mereka dipaksa untuk belajar akan tidak baik hasilnya, begitu alasan yang sering kita dengar. Alasan tersebut tidak salah namun juga tidak benar. Lho?
Memang benar bahwa dunia anak adalah dunia bermain? Tapi apakah dalam bermain anak-anak tidak belajar?Padahal semenjak dilahirkan anak-anak sudah mulai belajar, baik dari lingkungan maupun dari media bermain. Ada kesalahan dalam cara memandang tentang pembelajaran anak. Proses pembelajaran bagi sebagian orangtua adalah sikap formal dalam mengajar, seperti laiknya kita lihat dikelas-kelas. Segala sesuatu dijelaskan dengan teori yang formal sekali. Padahal kita tahu dunia anak-anak adalah dunia bermain, dan adalah tugas kita (orangtua) untuk mensiasati bahwa proses bermain tadi menjadi sebuah arena pembelajaran yang menyenangkan sekaligus efektif untuk mengembangkan kecerdasan, kemampuan kognitif, akhlaq, dsb.
Demikian pula dalam hal membaca, dengan membaca kita dapat mengajarkan kemampuan untuk berbahasa dengan lebih baik lebih terstruktur dan lebih kaya kosakatanya. Lalu sebenarnya, berapa usia yang tepat untuk memulai mengajari membaca pada anak? Sebenarnya sejak lahir kita dapat mengenalkan tentang membaca pada anak-anak. Hanya mungkin metode yang perlu kita kembangkan. Selain itu mengajari anak membaca diusia dini (2 tahun pertama )ternyata terbukti mampu merangsang dan meningkatkan IQ anak secara signifikan. Semakin dini kita mengajarkan membaca semakin baik hasilnya, Jadi ajarkan membaca pada anak semenjak ia lahir.
Namun bagaimana caranya?Apa yang harus kita lakukan? Ada 4 tips penting yang harus diperhatikan :
Ajarkan membaca dengan menumbuhkan minatnya, tidak dengan hapalan. Mungkin memang membutuhkan waktu dan proses yang agak lama, namun untuk hasil jangka panjang lebih baik hasilnya dibandingkan dengan metode hafalan. Metode hafalan memang lebih cepat kelihatan hasilnya, namun pada titik tertentu anak akan mengalami kebosanan, karena kemauan membaca tidak tumbuh dari minat anak.
Ajarkan dengan penuh antusias. Jika kita mengajarkan segala sesuatu dengan antusias dan mimik yang tepat akan lebih merangsang anak untuk berkonsentrasi dengan apa yang kita ajarkan.
Ajarkan dengan metode bermain, misalnya dengan menampilkan gambar-gambar mencolok berwarna-warni, dsb.
Berikan buku bergizi, buku yang memuat nilai-nilai akhlaq dan pelajaran ruhiyah.

Dibawah ini adalah tahapan mengenalkan membaca pada anak sesuai usianya :

Bayi Usia 0-6 bulan, dapat dikenalkan dengan buku-buku dengan warna terang, gambar besar dan sederhana, berbahan kertas keras, aman untuk digigit, atau buku ular (buku panjang yang dapat dilipat-lipat sesuai gambarnya), buku yang terbuat dari vinil lembut dengan gambar obyek-obyek yang ada di sekitar kita, dan buku yang mudah dibersihkan.
Bayi usia 6-12 bulan, mulai dapat dikenalkan membaca buku bersama dengan menggunakan bahasa dan suara yang lebih variatif dengan suara keras (read loud). Buku yang dapat dikenalkan adalah buku-buku papan (hard cover), vinil, kain, plastik, semuanya itu harus aman untuk digigit. Buku dengan menampilkan foto-foto bayi lain, buku yang terang dan menggugah, buku dengan obyek yang familiar. Dapat pula dibacakan buku-buku pada saat menjelang sore sesudah mandi atau menjelang tidur.
Anak Usia 12-24 bulan, dapat diberikan pengalaman pra-membaca yang lebih aktif dengan mengenalkan huruf dan angka lewat benda-benda disekitar kita. Misalnya saat makan “apel” dikenalkan huruf A, saat makan lauk yang digigit bentuk huruf dan angka, dsb. Juga berikan pengayaan saat membacakan, misalnya ada gambar komputer, berikan penjelasan sederhana. Buku yang dapat diberikan seperti : buku yang tidak mudah robek, buku yang menampilkan gambar dengan aktifitas familiar, seperti main bola, main di taman dsb.Buku yang memuat nilai akhlaq, idealisme, emosi positif, dan pembentukan pribadi anak.Buku yang memuat sedikit tulisan namun kaya gambar yang sederhana dan mudah ditebak jalan ceritanya. Atau buku-buku tentang hewan.
Anak Usia 2-3 tahun, pada usia ini anak sedang cerdas-cerdasnya, sedang cerewet-cerewetnya,dan mungkin ego yang sedang tinggi-tingginya. Harus ada upaya yang lebih keras untuk membuat mereka tertarik, atau kalau memang mereka telah berminat untuk membaca harus ada upaya yang lebih terarah untuk minat mereka ini. Buku yang dapat kita berikan seperti : buku yang bercerita sederhana,buku yang berirama dan bersanjak kadang dilengkapi VCD dan Kaset. Buku pengantar tidur yang memuat nilai ruhiyah,buku tentang bentuk, alfabet atau ukuran, buku berbagai jenis hewan, mobil, ide kegiatan ketika bermain, buku yang memuat tentang pengungkapan perasaan dengan sederhana kepada lingkungannya.
Anak Usia pra-sekolah 3-5 tahun buku yang dapat kita berikan seperti : buku anak-anak yang memiliki pandangan dan hidup seperti mereka, buku berhitung tentang konsep ukuran atau waktu, buku yang memuat tentang cara kerja sederhana suatu alat, buku yang mengembangkan minat mereka, seperti mobil, hewan, hutan, konstruksi, memasak.Buku yang menampilkan persahabatan dengan muatan akhlaq dan adab, buku yang menceritakan tentang asyiknya ke sekolah, ke dokter, punya adik kecil, dan membantu ibu mengasuh adik.Dan buku dengan teks sederhana yang memudahkan mereka untuk mengingat.

Nah, tidak sulit kan mengajari anak untuk membaca? Dengan sedikit pengetahuan dan daya kreativitas orangtua ternyata membaca menjadi pelajaran yang menyenangkan buat anak-anak. Selamat mengajari membaca, semoga bermanfaat.


Oleh-oleh mengikuti seminar di Pesantren Hidayatullah.
Materi disampaikan oleh Moh. Fauzil Adhim
Semoga Allah memanjangkan usianya dan membarakahi keluarganya sehingga beliau akan terus berkarya dan bermanfaat untuk kita semua. Amin

baca selanjutnya...

Dukun Pijat Bayi

Mbah Satriyo, Dukun pijat Bayi.

Profesi ini mulai jarang terdengar, mungkin hanya ada di kota-kota kecil dan pelosok desa. Di kota besar, profesi ini mulai tergantikan dengan klinik-klinik fisioterapi. Lebih profesional, lebih canggih, tapi mungkin ada yang kurang…, ini masih mungkin lho. Kalau dukun pijat bayi memijat dengan kasih sayang, dengan sentuhan cinta, karena profesi ini bisa dikatakan turun temurun sehingga dia bisa akrab dan hidup dalam sebuah simphoni yang utuh dengan bayi-bayi yang dipijatnya. Dia bisa merasakaan getaran dalam tubuh bayi yang membuat tangannya bagai mata yang mampu menghasilkan pijatan cinta.
Kebiasaan saya adalah memijatkan anak-anak kalau pas pulang ke kampung rumah mertua. Ya, karena saya mulai merasa kesulitan mencari dukun pijat bayi di Surabaya, yang saya tahu ada Klinik fisioterapi yang juga melayani pijat bayi, selain sedot lendir kalau bayi kita terkena pilek dan batuk. Pernah saya mencoba, tapi seperti yang saya utarakan diatas, ada yang kurang…sentuhan cinta.
Saya ingat ketika sedang hamil anak kedua saya disuruh ibu mertua pijat ke sebut saja namanya Mbah Satriyo (mungkin istrinya Pak Satriyo) orang-orang di kampung memanggilnya begitu. Waktu itu saya diantar kakak ipar saya yang perempuan. Kebiasaan orang Jawa memang kalau lagi hamil dipijat, konon untuk menata letak bayi agar pada saat hari H launching bisa lancar karena “bayine wis manggon ing dalane” posisi bayinya sudah pas ditempatnya. Bagi saya selama itu demi kebaikan, bisa saya terima dengan satu niatan Lillahi ta’ala Semoga Allah Ridho. Mbah Satriyo ini bagi saya seorang pribadi yang menarik. Awal ketemu beliau, agak jengah juga karena beliau orangnya sangat pendiam. Apalagi saya termasuk makhluk asing karena tempat tinggal saya dengan mertua berlainan kota, jadi jarang ke tempat mbah Satriyo, sehingga beliau juga tidak mengenal saya Mbah Satriyo lebih suka bekerja dalam diam, padahal saya termasuk tipe suka ngobrol, apalagi kalo pas dipijat enaknya kan sambil ngobrol-ngorol jadi lebih santai.. Untungnya beliau mengenal kakak ipar saya. Jadi masih nyambung.
Waktu itu usia kandunganku tujuh bulan, pas waktu pijat iseng-iseng kakakku bertanya, “Mbah bayine jaler napa estri?”, (Mbah jenis kelamin bayinya apa?). Saya juga jadi penasaran pengen tahu apa jawab Mbah Satriyo ini, kalo dukun pijat bayi bisa tau jenis kelamin, kan lumayan gak perlu USG lagi. Jawabnya ,” Mangke mawon nek lair lak ngertos piyambak, kula nggih mboten ngertos Jeng, wong anak sing maringi Gusti Allah, sing penting bayi kalih ibune sehat, saged nglairne lancar”(Nanti saja kalau sudah lahir kan tahu sendiri Jeng, saya juga tidak tahu, anak itu pemberian Allah, yang penting janin dan ibunya sehat, dan dapat melahirkan dengan lancar) Subhanallah…jawaban yang sungguh membuat saya “cegek”. Cegek” itu dalam bahasa Indonesia apa ya? ”(sulit menerjemahkan dalam bhs. Ind.)
Saya tersenyum kecut mendengar jawabannya, jawaban tak terduga.
Dan Alhamdulillah anak saya bisa lahir dengan sehat dan lancar, dan saya juga yakin ini imbas dari do’a Mbah Satriyo.Matur nuwun Mbah. Allah sebaik-baik pembalas Cinta.
Pas ada kesempatan pulang lagi ke rumah mertua, saya sowan lagi kerumah Mbah Satriyo, kali ini saya memijatkan anak kedua saya. Jujur dalam hati kecilku ingin dapat pelajaran hikmah lagi.
Pas lagi mijat beliau ini bertanya”sudah umur berapa?”, “Setahun Mbah”, jawabku.
“Sudah jalan belum?”, tanya Mbah Satriyo lagi.
“Belum Mbah, bisa berdiri sendiri, tapi belum mau melangkah, nggak tahu Mbah kok belum berani melangkah” (Biasanya kaum ibu suka begitu, khawatir anaknya belum bisa begini, belum bisa begitu, anak tetangga sudah begitu, anak saya kok belum?syndrom ibu-ibu. Semoga para ibu tidak marah dengan statemen saya yang semoga salah.Padahal anak-anak kan punya keunikan sendiri-sendiri dan yang jelas lain dari yang lain, ya?)
“Ndak papa ya Gus, wong pancen durung di kongkon mlangkah kok, sembarang ana titi wancine.”(“Nggak papa anak bagus, memang belum disuruh melangkah kok, semua ada waktunya”) Sengaja saya tulis dalam bahasa Jawa karena esensi bahasa Jawa kadang lebih dalam jika diterjemahkan dalam bhs Ind.
Jawaban sederhana, tapi justru itulah letak kelebihannya. Saya merasakan jawaban itu bukan sekedar sederhana, namun penuh muatan ketauhidan dan hanya bisa diberikan oleh mereka yang telah akrab dengan diri dan Tuannya. Beliau tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini ada yang mengatur, ada yang menitahkan, dan yang menitahkan lebih tahu pada titik kapan sesuatu itu akan berlaku. Subhanallah.. hari ini satu pelajaran cinta telah kudapatkan. Kami pamitan dengan iringan do,a di hatiku, Semoga Allah membarakahi hidupnya, dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang dirihoi karena cintanya.
'The person who loves others will also be loved in return.'
Leces, 11 Juni 2006

baca selanjutnya...

25.9.06

Shangri-la versus Tumpeng 100 Ribu


Shangrila versus Tumpeng 100 Ribu.

Tanggal 8 September 2006 pas ulang tahun Mas Gangga saya dapat tugas bos dikantor untuk menghadiri acara di Hotel Shangri-la Surabaya. Acaranya sendiri baru besok, dan harus nginep. Waduh…lumayan bisa nginep dan makan gratis di hotel bintang lima, Shangri-la lagi! Yang publish ratenya sampai satu juta semalem. Trus asyiknya bisa bawa keluarga dan pas dengan itungan KK-ku, Suami istri dan 2 anak. Breakfast dan lunch gratis, bisa ke spa, bisa renang, bisa senam BL, ada games, ada doorprize, juga ada cooking class, wuih….
subhanallah …. Enak betul ya? Saya udah bayangin yang enak-enak, itung-itung ngajak Mas Gangga sebagai kadonya (ssttt..soale lg krismon nih), jadi, cari kado yang gratis-gratis gini cocok. Saya bayangin dia renang yang ada jacuzzi-nya dengan ayahnya, duh pasti seneng…
Sampai pulang kantor, saya bilang ke suami, dia diem lamaaa, lalu bilang gini, “Trus acara bikin tumpengnya gimana?” Astaghfirullah… baru inget kalo besok saya janji mau bikin tumpeng buat Mas Gangga, “Aku udah ngundang Mas Handoko buat ikut ngedoain” Mas Handoko adalah orang nyentrik (baca : sholeh) yang pernah kuceritain tempo hari. Yah…gimana ya…
Jujur pengennya sih mau ke Shangri-la, gratis bo! Jarang-jarang ada kesempatan kayak gini. Saya coba bernegosiasi dengan suami, “Kalo tumpengnya gak jadi trus diganti ke hotel gimana?boleh bawa keluarga kok, semuanya” kataku.
“Ya kalo gak jadi bikin tumpeng biar aku pesen ke Bu Mus aja!,nggak enak, udah janji ama orang dan kemaren kamu juga udah bilang sanggup.” Kata suamiku. Datar banget ngomongnya tapi bikin manyun, dongkol n so on. Inti yang kutangkap saya nggak di ijinkan untuk datang acara di Shangri-la. Alhasil se sore itu aku cemberut aja, dan kayaknya kans untuk datang ke Shangri-la semakin tipis. Yah… selamat tinggal deh Shangri-la..belum rejekinya kali.
Akhirnya hari Sabtu gak jadi nginep ke Shangri-la, sebagai gantinya saya harus berperang didapur…bikin tumpeng. Trus pas suami nanya butuh uang berapa? Karena masih dongkol kujawab sekenanya, seratus ribu!. Begitu suami berangkat ke kantor jadi bengong sendiri, lah seratus ribu, bikin tumpeng? Tadi Mas Gangga juga minta dibikinkan kue yang ada lilinnya, waduh celaka tiga belas… Akhirnya Bismillah, dengan uang seratus ribu ke pasar, beli keperluan bikin tumpeng n kue pesenan Mas Gangga. Akhirnya selepas Ashar semua kelar…Mas Gangga juga udah dari tadi lirik-lirik kuenya yang bertuliskan MAS GANGGA 4 tahun. Nggak ada yang diundang, hanya keluarga sendiri plus Mas Handoko yang doain dan kita yang amini, ntar aja dibagi-bagi ke tetangga.
“Aku pengennya nyanyi di depan kue”kata Mas Gangga, “Mas, gimana kalau kita baca Al Fatihah, dan berdo’a, supaya Mas Gangga jadi anak sholeh? tawarku pada Mas Gangga, “Ya..aku mau berdoa aja sama Allah, nggak jadi nyanyi”.
Sebelum meniup lilinnya, kami semua berdo’a khusyuk untuk Mas Gangga khususnya, dan keluarga semua, tentunya. Alhamdulillah didepan kami ada setampah tumpeng yang cantik, dan sekotak brownies kukus yang telah berubah wujud jadi kue tart dengan 4 lilin. Kupandangi hasil kreativitasku seharian ini, ada bahagia yang saya yakin gak bisa dirasakan oleh orang lain. Dengan uang seratus ribu, saya yang masak aja gak percaya. Tadi juga sempat denger Mas Handoko nanya suami, Semua bikin sendiri? Dijawab suamiku ya, “Pinter ya ?.” Ah…pujian yang membuat ada sesuatu di hati jadi menggembung. Jadi malu…!
Rasanya bahagiaaaa sekali…bahagia yang ngga bisa diceritain dengan kalimat dan kata-kata. Lihat Mas Gangga bahagia meniup lilin, memotong tumpeng, dan khusyuk berdo’a. Bahagia melihat orang-orang melahap tumpeng, kue tart, dan es tape ketan. Trus masih bisa bagi-bagi ke tetangga walau nggak semua, minimal temen-temen main Mas Gangga kebagian tumpeng dan kuenya. Subhanallah, semoga barakah. Rasanya…., bahagiaaa yang kayaknya nggak bisa kebeli dengan nginep di Shangri-la. Ah seandainya biaya nginep di Shangri-la bisa diganti uang pasti bisa bikin tumpeng dan kue yang lebih besar sehingga semakin banyak yang kebagian.




02 Ramadhan 1427

Muhasabah menjelang milad, semoga cita-cita Ummu Madrasatun (yang rasanya masih jauuhh, gelap) tidak sekedar menjadi cerita

baca selanjutnya...

20.9.06

Resep Mengurai Marah Ala Mas Gangga



Siang tadi ia meminjam buku di perpustakaan, dan berarti tugasku malam ini untuk membacakan cerita itu untuknya, dan kayaknya ia sudah tak sabar untuk dibacakan bukunya. Sehingga sejak kedatangan kami, belum sempat mandi, belum sempat sholat Maghrib, ia sudah merengek minta dibacakan cerita bukunya. Dengan sedikit kesal aku menjawab agak ketus ama Mas Gangga. Tentu dengan raut muka yang ditekuk-tekuk, dilipat-lipat, sehingga alis diatas mata ini nyaris bergandeng mesra.. Astaghfirullah…(kalo inget nyesel juga sih?!). Mas Gangga tau itu, sehingga ia nyeletuk, “Bunda wajahnya jangan gini-gini po’o?” sambil nunjukin wajah dan dahinya yang berkerut, dan mulut agak monyong. Aku tersenyum, senyum kecut tentu. Mungkin dia nggak puas karena reaksiku hanya tersenyum, terus dia bilang gini, “Bunda gini po’o” dengan menunjukkan wajahnya yang bibirnya telah ditarik 2 cm kiri dan 2 cm kanan. Tarikan simetris dari bibirnya itu menghasilkan senyuman yang sangaaatttt manisss. Karena kalo gak simetris namanya manyun. Coba sendiri deh kalo gak percaya!, Akhirnya dengan jurus pamungkasnya itu membuat aku tertawa lebar…tentu dengan senyum yang …tulus(insyaallah). “Iya, Sayangku, Cintaku, ntar habis mandi dan sholat kita baca bareng-bareng bukunya ya?” Coba dari tadi bilang gitu pasti tak akan menghasilkan protes ala Mas Gangga. Sambil mandi aku jadi berpikir…seandainya setiap kemarahan, kekesalan, kemanyunan, kegondokan and so on dapat diselesaikan dengan senyuman..apalagi dengan senyum tulus yang dipancarkan dari kebeningan hati kita, Subhanallah…indahnya dunia.
So…yuk kita persembahkan senyum terbaik kita untuk orang-orang tercinta di kanan kiri kita, dan semuanya, semoga amalan kecil tak bermodal ini menghasilkan catatan kecil oleh malaikat di pundak kanan kita. Amin…

Ujung, 30 Agustus 2006
Terima kasih buat Mas Gangga yang sebentar lagi ultah ke-4, teruslah tersenyum agar dunia senantiasa indah di mata kami.

baca selanjutnya...

14.9.06

Ultah MAs GAngga

Bismillahirrahmanirrahiim

Ada haru yang membiru. Ketika Mas Gangga tadi pagi salim mau berangkat sekolah, mobil jemputan udah nunggu didepan. Aku pandangi agak lama.. wajah yang kata Bu Dewi gurunya, punya senyum yang khas setiap pagi. Subhanallah. Indah …indah memang ciptaanMu. Sungguh tak pernah sia-sia Engkau menciptakan segala sesuatu. Hari ini ia telah berusia 4 tahun. Ternyata begitu banyak yang ia berikan kepada kami, sungguh…!!
Ia punya ketulusan cinta untuk kami,
Ia punya kasih sayang suci untuk kami,
Ia punya maaf yang tak terbatas untuk kami,
Ia penawar lelah kami,
Ia penyejuk mata kami,
Ia punya semua untuk kami…
Tapi kami merasa tak punya apa-apa untuknya…
Selain serpihan-serpihan cinta yang mencoba kami rangkai, yang semoga menjadi gambar yang indah…
Mohon ampun Rabb, sungguh …kalau ternyata kami belum mampu memberikan yang terbaik untuk amanah yang terbaik dariMu.
Mohon Ampun Rabb, kalau kami masih tertaih-tatih dalam memeluk & mencintainya.
Ya Allah…kemana kami melangkah..memohon ridho, jika tidak dalam luasnya cintaMu.
Rabb..pancarkan Ar Rahman-ArRahimMu di hati kami, agar cinta yang terpancar padanya bukan cinta kami semata…namun cinta dariMu
Rabb kuatkanlah kami, agar ketegasan ini bukan dari nafsu kami, namun dari kekuatan tangan Al Aziz ….
Rabb lembutkanlah hati ini dengan Al Lathiif sehingga kelembutan ini pancaran dariMu
Pancarkan cahayaMu sehingga terangnya hati ini adalah sinaran dari AN Nur
Ya Jaliil…. Keagungan hanya milikMu semata,
Ya Kariim… Kemuliaan milikMu semata,
Ya Hakiim…. Kebijaksanaan hanya dalam genggamanMu semata
Semoga langkah kami, hidup mati kami, jiwa kami hanya pancaran dari keagungan Asmaul Husna.
Amin Allahumma Amin.

Pacarkembang,8.9.06
Di momen ultahnya yang kami tak punya apa-apa selain mencoba merangkai do’a dan menyusun serpihan cinta. Semoga engkau tetap istiqomah mengingatkan kami yang sering lupa….


baca selanjutnya...

13.9.06


Mengisi Amunisi untuk Bulan Agung

Beberapa hari terakhir ini saya resah, resah karena ternyata euphora menyambut bulan yang diagungkan belum nyampe di hati saya (Astaghfirullah). Rasanya biasa banget…. Sampai saya curiga, dimana hati ini, kerinduan yang dulu tiba-tiba menyusup dihati, menjadi sesuatu yang membahagiakan yang selalu hadir ditengah-tengah sampai akhir bulan Sya’ban. Kenapa sekarang adem ayem aja?
Apakah karena himpitan persoalan keseharian sehingga melenakan hati ini untuk menyambut Ramadhan? Kemaren sempat diundang juga ke sekolah Mas Gangga untuk mengikuti pembekalan Ramadhan buat anak-anak. Bagus, tapi saya juga merasa penyampaianku pada mas Gangga datar-datar aja. Gak ada greget. Malah Mas Gangga yang nagih-nagih “kapan puasa?” What’s wrong? Harus ada penyelesaian, harus dituntaskan. Tapi mau ngapain? Mau maksa-maksa hati ini untuk mengikut euphora ini? Saya iri ama televisi yang udah berlomba-lomba menyambut bulan suci ini. Sungguh!! Walaupun kadang ceritanya gak nyambung ama Ramadhan…Tapi minimal mereka punya ghirah..walaupun nggak tau kalau ujung-ujungnya ya duit. (Astaghfirullah kok jadi senewen).
Sampai akhirnya jurus pamungkas kulakukan, berdoa. Tapi ya gitu, berdoa dengan rasa yang biasa, Ya Allah, ijinkan aku merasakan nikmat menyambut Ramadhan, ijinkan kami mereguk indahnya bulan Ramadhan. Kuatkan kami dengan amalan-amalan yang membaguskan akhlak kami, Berikan pelajaran pelajaran hikmah yang dapat mendekatkan hati ini pada cintaMu. Entah bagaimana Allah menjawab doa yang kuucap tanpa greget…walaupun dengan harap-harap cemas. Minimal saya berusaha…
Sampai kemudian pagi tadi ketika sedang mandi pikiran ini melayang…mungkin karena menghitung-hitung kebutuhan menjelang Ramadhan dan Lebaran yang terbayang didepan mata, bisa nambah infaq gak ya?bisa nyantuni anak yatim gak ya?bisa bawa sesuatu yang bisa dijadikan buah tangan saat silaturahmi lebaran gak ya?dan sederet pertanyaan manusia yang fitrahnya pengen lebih tapi kemampuan apa daya. Inget kemampuan tempat tinggal yang masih pinjaman kakak, inget kemampuan kendaraan masih pinjeman kantor, kalau sakit juga masih dikasih fasilitas kantor, etc. Tapi…ada tapinya, Justru dengan pinjaman –pinjaman tadi kami jadi lebih hati-hati…Hati-hati menjaga kebersihan rumah kami, hati-hati mempergunakan kendaraan fasilitas kantor. Karena inget semua itu pinjeman yang suatu hari akan diminta kembali. Dan yang pasti agar kami tidak malu pada saat barang-barang pinjeman tadi diminta yang punya. Pasti yang minjemin akan senang kalau ternyata kita amanah dalam menjaga barang-barang titipannya.
Ah… seharusnya kami mampu berpikir seperti itu untuk segala amanah yang diberikanNya.
Mata ini, masih kami bawa untuk melihat yang tidak Engkau sukai walau mata ini milikMu
Telinga ini, masih dipergunakan untuk mendengarkan kemaksiatan, mendengarkan ghibah, dengan sadar walaupun tahu telinga ini milikMu.
Kaki ini, masih saja kami bawa berjalan ketempat-tempat yang menjauhkan kami dari barakahMu walaupun kami sadar kaki ini milikMu.
Tangan kami, masih menggapai-gapai barang yang tak halal, yang justru menyulut murkaMu walaupun kami tahu tangan ini milikMu
Mulut kami masih penuh kata2 kotor, sering menyakiti orang lain, masih sering digunakan untuk marah-marah walaupun kami tahu mulut ini hakMu
Apalagi hati ini Rabb…Kotor…sungguh, sering memperolok orang, iri, dengki, takabur…merasa benar sendiri dan begitu banyak penyakit-penyakit hati yang menempel, sehingga hati ini tak mampu menembus NurMu…
Padahal mereka akan memberi pertanggungjawaban sendiri dihadapanMu, ah betapa memalukan saat itu bagi kami. Malu karena kami belum paripurna menjaganya. Kalau barang titipan manusia begitu hati-hatinya kami menjaga, kenapa dengan titipan penguasa jagad raya kami masih melalaikannya?
Masih pantaskah surgaMu kuharapkan?Duh Rabb..malu
Kemana kami mengharap selain dalam Rahman RahimMu yang luasnya melebihi murkaMu.
Semoga pencerahan sejenak ini memberikan amunisi penuh untuk bekal kami ber Ramadhan. Dan output Ramadhan dapat kami rasakan di sebelas bulan kemudian, sehingga kami dapat berRamadhan sepanjang masa, kata Emha, Kyai Mbeling. Sayup-sayup rindu itu mulai menggelayuti hati ini,
Marhaban Ya Ramadhan…..

Ujung, 12.09.06
Kuselesaikan disela-sela ributnya mempersiapkan acara launching Kapal Roro Passenger Timor Leste. Semoga acaranya lancar.
Mohon maaf segala khilaf semoga kita dapat memasuki gerbang Ramadhan dengan kebeningan hati dan jiwa amin.

baca selanjutnya...