aku terpeleset - Sajadahku, Masjidku

3.5.07

aku terpeleset

Ketika dulu suamiku melupakan hari ulang tahunku, aku menangis merasa bukan seseorang yang perlu ‘diperjuangkan’ minimal dipikirkan, berpikir ia tak sayang, ia tak cinta…n so on. Ketika hari ulang tahun pernikahan kami dia malah keluar kota tugas kantor, aku ngambek…, aku marah….kok dia gak romantis blasss..bahkan pernah kami berdialog begini,:
“Mas inget gak hari ini hari apa?”tanyaku
“Inget, hari Senin”,jawabnya
“Inget gak ada apa dengan hari ini?” kejarku,
“Inget, hari ini hari ulang tahun pernikahan kita!” jawabnya
“Trus…?!”kejarku lagi
“Trus…aku disuruh ngapain?!” jawabnya tanpa dosa.
Nah lho…keki gak?!
Salah gak kalau aku sempat sewot sampai di ubun-ubun….panassss membara di dada…

Namun lewat perenungan yang beratttt sekali…akhirnya ada pencerahan (ato menghibur diri sih?) Untuk urusan Ultah, kupikir itu nafsi-nafsi alias urusan kita ama Tuhan, Kalau kita mau nyadar bahwa ulang tahun adalah momen kita untuk mengevaluasi diri, bermuhasabah dengan berkurangnya usia kita setahun, so…kenapa harus ikut melibatkan dan merepotkan orang lain gitu loh! Apalagi nyuruh orang lain nginget-nginget ulang tahun kita, sebodo amat ah!

Untuk urusan ulang tahun pernikahan, esensinya kupikir juga sama dengan ulang tahun kita kan? Biarlah itu menjadi urusan kita dengan yang Maha Mengetahui segala gerik hati kita. Kalaupun ada janji dan target untuk menjadi lebih baik, biarlah itu menjadi janji kita pada Allah saja, tak perlu melibatkan pribadi yang lain, pun itu suami.

Setiap biduk rumah tangga punya warna dan gaya masing-masing. Dan yang sering terjadi adalah merasa rumput di taman sebelah lebih indah dan lebih berwarna dari halaman kita. Sekuat apapun kita merawatnya. Dan kadang itu melelahkan ya? Apa lagi dengan dukungan model slenge’an ala suamiku, (makan ati tau?!)
Tapi sungguh hanya kedalaman Cinta yang mampu mengembalikan diriku ke tempat asalnya. Tempat Cinta bermuara, kemana lagi jika dalam luas dan dalamnya Rahman RahimNya?

Namun entah kenapa kekhusyu’an cinta itu ternoda beberapa hari ini, keagungan cinta yang kudengungkan harus guncang dengan atas nama kasih sayang. (bingung ya?…yo ben!?), kalau lewat perenungan yang dalam dan beratttt kemaren2 mampu meredam emosiku, sekarang tidak lagi, aku merasa tak diperhatikannya lagi, aku merasa tak dihiraukannya lagi, aku merasa tak disayanginya lagi, aku merasa tak diperlukannya lagi,
Salahkah kalau sometimes aku dihargai walaupun sekali?
Salahkah kalau sometimes aku ingin sedikit ‘diperjuangkan’ walau sekali?
Salahkah kalau sekali saja aku menjadi yang utama?
Agar aku tidak terus merasa sosok yang terpinggirkan?

Ah ternyata aku juga manusia (gedubrak!?) whalahhhh!!!!
Aku terpeleset…dalam dogma yang kubuat sendiri.

Ujung, 03.05.07
Aku yang hanya ingin diam dalam liputan bara

No comments: