22.8.07

Berdampingan dengan Sakaratul Maut.

Pengalaman pertamaku berdekat-dekat dengan maut adalah ketika almarhumah ibuku saat itu sedang sakit keras. Telah tiga bulan beliau sakit di Rumah Sakit akibat tekanan gula darahnya yang tidak stabil serta ada luka di kakinya. Penyakit diabetes ini mulai menyerang ibuku sejak usiaku satu tahun. Namun Alhamdulillah dengan diet yang ketat dan obat-obatan baik medis maupun alternatif yang rajin diminumnya membuat ibuku mampu bertahan selama kurang lebih 25 tahun dengan penyakit Diabetes Mellitus.

Saat yang terberat dalam hidupku adalah menjelang wafatnya ibuku, karena saat itu kebetulan saya harus bertugas di Jakarta. Berarti saya semakin berjauhan dari ibuku yang tinggal di Tulungagung.

Hari-hari yang sangat berat, rasanya saya seperti tak berpijak ditanah. Hari-hari saya serasa mengawang, tak tahu apa yang sedang kuhadapi. Saya menjalani hidup hanya mengikut kemana kaki melangkah. Sebuah rutinitas yang sangat berat. Sebenarnya bisa saja saya meminta ijin mengundurkan diri dari proyek di Jakarta untuk menunggui ibu di RS, namun saya sadar dengan mengikut proyek di Jakarta ini berarti income saya agak berlebih dari gaji saya sehingga bisa untuk membantu biaya pengobatan ibu. Rasa pedih, sedih, dan getir di hati saya waktu itu tak dapat kuukur dengan apapun juga. Seolah aku menjalani hidup yang mati, tanpa harapan, tanpa semangat, tanpa kemauan. Sakit ibu kala itu memang pukulan terberat bagi kami. Karena begitu berartinya sosok ibu bagi kami.

Allah Memang Maha Pemurah, karena pada saat-saat kritisnya saya diijinkan untuk sejenak pulang mendampingi ibu di RS. Setiap hari tanpa henti kami bergantian menjagai ibu. Sampai pada suatu titik dimana perawatan RS kami nilai sudah tak memadai lagi, melihat kondisi ibu semakin memburuk, kami mengajak beliau untuk pulang. Kami berharap akan mengusahakan dari pengobatan alternatif. Pagi itu saya pulang dari RS, dan ternyata hari itu pagi terakhir saya di RS karena setelah itu ibu pulang paksa atas persetujuan kami sekeluarga. Sore sekitar qabla Ashar ibu tiba di rumah, kondisinya semakin payah. Kami memasang infus dengan bantuan tetangga yang menjadi perawat. Malam harinya kami bergantian menjaganya, tapi entah mata ini rasanya sulit sekali terpejam. Ketika sejenak mampu terlelap, tengah malam saya dibangunkan oleh kakak ipar saya istri kakakku yang nomor satu. Dia merasa mengantuk, dan meminta saya untuk menggantikannya. Saya tak menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir ibuku…Tanpa henti aku membaca ayat-ayat AlQuran membisikkan lembut di telinga ibuku…ahh..jika ingat saat itu air di mata ini menjadi meleleh.

Sekitar jam 3 dini hari semua bangun untuk memiringkan tubuh ibuku yang sepertinya kelelahan. Andai saya tahu bahwa bunyi nafasnya yang berat saat itu adalah nazakh yang semakin dekat. Andai saya tahu Ya Rabb…

Semua tak merasa bahwa ibu akan pergi untuk selamanya, bahkan tiba-tiba seperti tersihir semua sudah berada diperaduaannya kembali untuk tidur. Aku yang sejak tadi menuntun ibu dengan ayat-ayatNya tanpa kantuk sedikitpun, tiba-tiba juga merasa mengantuk, bahkan Abah saat itu memintaku untuk tidur disamping ibu, karena aku terkantuk dipinggir ranjang, takut aku terjatuh. Saat itu semua memang dalam puncak kelelahannya. Lelah lahir maupun batinnya. Seolah ibu tak ingin merepotkan semuanya , beliau pergi begitu tenang. Bahkan tak ada satupun dari kami yang mendengar Adzan Subuh, karena aku terbangun saat ada sesuatu menyentakkan tubuhku. Seperti disentakkan oleh sengatan listrik, dan mampu membuatku terbangun. Refleks kulihat jam dinding menunjukkan jam 05.05, dan secara refleks pula jariku menyentuh lubang hidung ibuku, tak ada nafas yang keluar…Aku terpana!! Sejenak blank…menuju dunia yang seakan sunyi tanpa batas…aku seperti terhempas dalam jurang yang sangat dalam dan sangat lengang… seakan tak percaya bahwa ibuku sudah pergi. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Aku tak segera membangunkan mereka yang sedang terlelap dalam tidurnya, yang mampu kuucap pada saat itu hanyalah, "Abah sudah siang, semua belum sholat!" kataku. Dan seolah patuh dengan kalimatku semua terbangun tergopoh-gopoh, juga seakan baru bangun dari perjalanan panjang. Semua seperti tersentak…Disaat semua sudah terbangun, barulah aku mampu berucap "Abah, ibu sudah tak bernafas lagi !!" Semua terkaget, sejenak terjadi kegaduhan. Kakak-kakaku melompat, seolah tak percaya. Yah titik takdir itu telah berlaku atas ibuku.

Semoga air mata yang tertumpah saat itu menjadi bukti cinta kami padanya, bukan air mata kesedihan. Semoga kekuatan cintanya pada kami akan senantiasa menjadi azimah cinta di dalam dada kami semua. Semoga Allah meridhoi hidup dan akhirnya. Bi Barakatillah. Kejadian itu berlangsung pada tanggal 10 Nopember 2000. Itulah pengalamanku pertamaku mendampingi seseorang dalam titik taqdir kematian. Barangkali sentakan seperti sengatan listrik itu adalah saat paling akhir malaikat Izrail menuntaskan tugasnya, karena dari cerita beberapa teman yang pernah mengalami berdampingan dengan maut memang seperti ada sesuatu yang disentakkan ketika ajal memanggil.


 

Jika pada kesempatan pertamaku berdekat dengan maut tidak secara langsung kulihat dengan mata ku sendiri hanya rasa disekelilingnya, karena kebetulan saya tidur berdampingan dengan ibuku dalam satu ranjang, maka pada kesempatan kedua ini saya benar-benar melihat sendiri bagaimana perjalanan sakaratul maut. Kejadian ini bermula dari Pakdhe suamiku yang pulang dari menunaikan ibadah haji. Karena kondisinya saat masih di Makkah sudah payah (namun Alhamdulillah Pakdhe dan Budhe telah menyelesaikan hajinya) sehingga beliau berdua dipulangkan mendahului jadwalnya. Dan ketika datang juga tak bisa langsung pulang ke Probolinggo karena harus dirawat di RS Haji. Hari Kamis datang dan kondisinya masih baik, bahkan bertambah baik. Hari Sabtu malah sudah bisa guyonan dengan anak-anaknya yang datang dari Probolinggo. Siapa sangka bahwa hari itu adalah hari terakhir kami bercengkerama, hari terakhir kami bersua. Karena malam harinya kondisinya terus drop, bahkan pagi harinya sudah koma, bernapaspun harus dengan bantuan oksigen. Sekitar jam 08.30 pagi itu saya sempatkan ke Rumah Sakit setelah mengantar anakku yang nomor dua ke Lab, karena badannya panas sudah 2 hari.

Sesampai di rumah Sakit kulihat kondisi Pakdhe stabil dalam komanya, napasnya teratur. Disitu sudah ada Budhe istri pakdhe, anak-anaknya, ibu mertuaku yg adik dari Pakdhe, ada suamiku. Bergantian kami membaca ayat-ayat Al-Quran. Sekitar jam 09.30 ada dokter jaga yang memeriksa, sepertinya ada yang gawat, karena dia memanggil perwakilan keluarga, intinya pihak RS meminta persetujuan untuk memindah Pakdhe ke ruang ICU krn kondisinya semakin kritis. Ibu mertuaku sejak tadi sudah membisiki saya dan suami bahwa kayaknya Pakdhe memang sedang berproses untuk kembali kepada Sang Khalik. Ibu mertua ini (beliau sudah almarhumah juga tak lama setelah Pakdhe meninggal) sering kali melihat fenomena orang yang sedang sakaratul maut, sehingga sedikit banyak hapal karakteristik orang-orang yang akan berpulang. Melihat kondisi Pakdhe seperti itu ibu mertuaku meminta seluruh anak-anaknya meminta maaf dan memaafkan Pakdhe, istrinya juga diminta untuk mengikhlaskannya. Saat keluarga Pakdhe sibuk berkonsultasi dengan pihak paramedis, saat itulah saya seperti tersadarkan bahwa waktu Pakdhe semakin dekat. Kuteruskan membaca surat Yasin, dan surat-surat pendek di juz 30, ibu terus memintaku untuk meneruskan membaca Al Qur'an. Beliau sendiri menuntun 2 kalimat syahadat di telinga Pakdhe. Kulihat nafas Pakdhe semakin berat…jika pada saat koma dan harus dengan bantuan oksigen tadi mulut Pakdhe senantiasa menganga, maka pada saat itu Pakdhe seolah tersedak dan bibirnya mengatup. Nafasnya mulai melemah…lemah….kemudian datang paramedis yang membantu membuat sentakan dengan menggunakan alat pacu jantung, beberapa perawat bergantian, menekankan alat itu kedada Pakdhe…dan kuteruskan melantunkan membaca surat Yasin di dekat telinganya dan kuusahakan suaraku selembut mungkin, namun semoga jelas didengarnya, sampai pada ayat "Salaamun khoulam mirrobbirrahiim" seperti ada sentakan kuat sampai saya sedikit terkaget, seperti sengatan lisrtrik yang kurasakan saat meninggalnya ibu dulu. Dan pada waktu yang bersamaan petugas paramedis menyatakan jantung Pakdhe telah berhenti berdetak…Innalillahi wainna ilaihi roji'un…

Sungguh tenang kepergiannya, di saat semua urusannya selesai minimal seluruh anak dan istrinya telah saling memaafkan. Prosesnya begitu cepat dan tenang serasa tak ada hambatan, semoga itu menjadi bukti kemuliaannya di sisiNya. Beliau pergi disaat bacaan ayat yang sangat indah…

" (Kepada mereka dikatakan) Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang"

Sungguh indah Allah menyambut kepulangannya.

Di saat yang lain suamiku bercerita bahwa pada saat aku membaca ayat itu suaraku menjerit, dengan suara meninggi seperti orang berteriak. Dia sendiri kaget dia pikir ada sesuatu yang terjadi padaku. Dan kuceritakan saat-saat itu padanya. Pengalaman batin yang menakjubkan. Sangat luar biasa bagiku.


 

Pengalaman ketiga aku berdekatan dengan maut, saat sahabatku dikantor menghadapi hari-hari akhirnya, walaupun aku tak mendampingi saat terakhirnya namun aku lega telah menunaikan perintah yang tiba-tiba melesak-lesak didada saya, sehari sebelum hari meninggalnya. Entah kenapa saat itu saya ingin sekali mengaji disampingnya, aku utarakan keinginanku dengan teman2 dikantor dan siang itu kami berangkat sama-sama ke sana. Rasanya melihat kondisinya saat itu rasanya waktu kami tak lama lagi untuk tetap bersua. Matanya mulai menguning tanda kanker itu telah menjalar ke levernya, dan tatapan mata itu…seolah aku memandang lorong kesenyapan. Siang itu dia masih tersadar, namun itulah siang terakhir kami berjumpa, kusempatkan mengaji di bibir ranjangnya. Aku hanya mampu berdo'a "Ya Allah berilah yang terbaik bagi hambamu ini" diakhir bacaan Surat Yasinku.

Sore harinya dia koma, dan sesaat sebelum Adzan Isya hape saya berdering mengabarkan dia telah berpulang…Inna lillahi wainna ilahi roji'un.

Segera saya meluncur ke RS Graha Amerta tempat jenazahnya sementara disemayamkan, saya masih sempat memandikannya, mengkafaninya, dan mengantar jenazahnya pulang ke rumahnya untuk disholati dan dimakamkan.

Diatas semua pengalamanku itu hanya satu pinta semoga Allahpun memberikan akhir yang baik bagiku, keluargaku dan seluruh keturunanku. Amin Allahumma amin.

Pacarkembang, 22.08.07


 

baca selanjutnya...

7.8.07

Membuang Mimpi Menjemput Hidayah

Sejak saya menginjakkan bangku SD sekitar kelas IV keatas, setiap tanggal tujuhbelas Agustus ada sebuah ritual yang hanya aku sendiri yang selalu menjalankannya. Tak seorangpun tahu hingga cerita ini kutulis. Ritual yang membuatku mempunyai sebuah mimpi yang sangat kuat. Biasanya setiap tanggal tujuh belas Agustus di sekolah dan instansi-instansi mengadakan Upacara Bendera sekaligus mengenang detik-detik Proklamasi. Sekolah biasanya mengadakan upacara di pagi hari seperti upacara hari Senin. Upacara dimulai jam tujuh dan selesai sekitar jam setengah sembilan, kemudian bubar.

Nah ritual itu kumulai sepulang dari mengikuti upacara tujuhbelasan di sekolah. Aku akan berada di depan televisi menunggu acara Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Negara. Satu momen yang kutunggu adalah ketika Pasukan Pengibar Bendera mulai mengambil tempat untuk menaikkan bendera Sang Saka. Ada perasaan yang mengharu biru, antara semangat, bangga dan haru serta perasaan aku ingin seperti mereka! Mereka berbaris dan kelihatan sangat gagah. Betapa bangganya bisa menjadi salah seorang diantara mereka yang sedang berbaris itu. Dihadapan orang-orang terpenting di negeri ini, didepan jutaan pemirsa yang pasti melihat acara itu karena seluruh stasiun televisi wajib merelay acara tersebut. (Sekarang masih begitu juga gak ya?). Apalagi seorang dari Pasukan Inti delapan akan berhadapan langsung dengan Presiden untuk menerima lipatan Bendera Merah Putih bersejarah itu. Siapa yang tak bangga?. Saat itu pasti ada sesuatu yang berdentum-dentum di dada saya. Mungkin saya nggak berkedip memandang layar kaca televisi. Dan dentuman-dentuman yang rutin menghampiriku setiap tanggal tujuh belas Agustus di pagi hari saat penaikan Bendra dan sore hari saat penurunan bendera membuatku terobsesi. Terobsesi oleh sebuah keinginan yang lama kelamaan mengendap menjadi sebuah mimpi yang sangat kuat "menghantui". Yah…aku sangatttt ingin menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera.

Sedikit banyak saya menyadari bahwa sisi kemaskulinan dalam diri saya sedikit menonjol. Artinya dengan kegiatan yang berbau maskulin saya lebih tertarik. Jika kegiatan disekolah saya lebih tertarik ikut Baris Berbaris atau Pramuka daripada ikut Paduan Suara, itu contoh kecilnya. Atau guru saya waktu SMP memilih saya menjadi Danton daripada menjadi dirijen, atau tugas yang lain saat upacara. Intinya sebelum berjilbab saya adalah sosok yang sangat maskulin alias tomboy. Tapi bukan lesbi lo!

Akhirnya kesempatan itu hadir ketika saya duduk di bangku kelas satu di STM Negeri Perkapalan Sidoarjo. Dari beberapa kandidat petugas Pengibar Bendera saat Upacara di sekolah, sayalah yang terpilih karena postur dan baris-berbaris saya lebih layak dari yang lain. Namun sayang mimpi yang telah lama menghantui saya itu datang pada saat yang tidak tepat. Kesempatan itu hadir ketika saya mulai aktif di kegiatan rohis Sekolah dan di Masjid An Nur. Kesempatan itu datang saat hidayah itu menjemput. Persis disaat saya berazzam untuk segera berbenah dengan pakaian yang lebih menutup aurat. Perang batin masih berkecamuk ketika saya harus mengikuti tes seleksi Paskibraka di tingkat Kecamatan. Harapan yang sangat tinggi oleh semua pihak di sekolah dan Bina Siswa dari PT PAL Indonesia dipikulkan dipundak saya. Kebetulan sekolahku memang menganut dual system, artinya dalam pengelolaan porses belajar mengajar dikelola bersama dengan pihak industri dalam hal ini dengan PT PAL Indonesia. Untuk belajar teori di laksanakan di Kampus STM Negeri Perkapaln Sidoarjo, semnetara untuk prakteknya dilaksanakan di Pusdiklat PT PAL Indonesia.

Seingatku hanya saya siswa perempuan yang dikirim mewakili sedangkan untuk siswa laki-laki ada beberapa, saya tidak ingat persisnya. Harapan itu memang wajar disandangkan di pundak para wakil yang mengikuti seleksi tersebut, karena selama ini kami juga dididik semi militer. Dalam hal baris-berbaris jangan ditanya, hampir tiap hari kami diajarkan. Apalagi kami yang petugas Pengibar Bendera. Akhirnya tibalah hari seleksi itu, dan kalau aku boleh menghitung peta lawan (halah) memang kontestan dari sekolah lain bukan saingan kami dalam hal baris berbaris, namun pada saat sesi wawancara entah mengapa hidayah itu kembali membayangi prose wawancara saya. Saya tahu nggak akan mungkin seorang petugas bendera memakai jilbab (pada saat itu). Dan pada saat yang bersamaan kami juga sedang fight untuk bisa berjilbab disekolah baik teori maupun praktek. Dan satu hal lagi, kami (saya dan teman-teman jilbaber) sudah menjahit seragam sekolah yang panjang saat saya sedang menjalani tes seleksi. Sungguh pilihan yang maha berat.

Bayangkan mimpi yang telah bertahun-tahun menghinggapi itu telah di depan mata, dengan sedikit usaha mimpi itu akan tergenggam! Perang batin yang hebat menyerang saya di kantor Kecamatan siang itu. Namun sungguh Allah tahu benar saat dimana seorang hamba membutuhkaNya. Entah dari mana kekuatan itu hadir, tiba-tiba rasa yang sangat kuat melingkupi saya, rasa bahwa apa yang sedang saya hadapi adalah sebuah ujian tentang kecintaan saya padaNya. Apakah saya akan memperjuangkan mimpi ataukah saya akan memenagkan hidayah. Dan bisa ditebak, saya akhirnya mengalah, saya letakkan ego, saya letakkan mimpi itu dengan sebuah senyum dan kesadaran baru, bahwa kenikmatan akan kebanggaan untuk menjadi seorang Paskibraka bukanlah satu-satunya cara. Akhirnya pada saat sesi wawancara saya sudah terlihat ogah-ogahan, sampai tim Juri memaksa saya untuk melakukan satu saja tes kesenian, bisa menari, menyanyi, atau membaca puisi. Saya bilang "Saya tidak bisa BU?" Entah saya sudah tak punya alasan lagi untuk menghentikan tes seleksi ini. Dan itulah satu-satunya cara yang melintas dibenakku saat itu. "Ayo dong, satu aja, nminimal nyanyi aja, baris berbaris kamu bagus!"Pinta juri saat itu. Saya hanya bisa menggeleng lemah. "Yah sayang padahal PBB kamu bagus, tapi memang salah satu syarat untuk bisa maju ke tingkat Kabupaten harus bisa menguasai salah satu kesenian, Masak sih gak bisa?." Tawarnya untuk yang ketiga kalinya. Dan sekali lagi saya hanya bisa menggeleng, kali ini dengan lebih mantap. Keluar dari ruangan itu ada sebuah kelegaan yang melapangkan dada saya. Yah selamat tinggal mimpi, selamat datang hidayah…


 

Tulisan diatas tak bermaksud untuk mendiskreditkan Paskibraka, saya hanya bermaksud menceritakan pengalaman pribadi tentang bagaimana saya menjemput hidayah, itu intinya.

07 Agustus 2007

Yang mencoba memaknai kemerdekaan sebagai totalitas kita padaNya…..

baca selanjutnya...

27.7.07

Perjalanan Cintaku...

Ibu,
Jika rahimmu adalah pertapaan cinta
Sungguh aku nikmati masa penantian itu…
Untuk merekah, memuai sesuai titikku..
Untuk kusongsong perjalanan dunia…

Ibu
jika buaianmu adalah ladang aku mengenal cinta
ijinkan kureguk manisnya…
untuk bekalku dalam perjalanan dunia
yang konon kejam dan melelahkan…

Ibu,
jika pangkuanmu adalah sandaran cinta
Ijinkan aku bermasyuk manja disana…
Dalam hangatnya peluk dan damainya rengkuhan

Ibu,
Jika dunia adalah padang untuk mencari Cinta
Sungguh engkaulah oase bagiku
Untuk sejenak berhenti untuk menghela energi
Dan melanjutkan pencarian
Dalam ruang yang tak berujung dan tak berbatas.

Ibu,
jika akhirat adalah pertemuan Cinta,
dan ditelapak kakimu bersemayam surga,
dalam haribaan Cintamu aku ingin melebur
Karena sungguh yang kurindu bukan jasad yang melekat,
Namun karena kasih sayang dan Cinta
Yang sesungguhnya pancaran Asmau’ul Husna

18 Juli 2007

baca selanjutnya...

19.7.07

Berawal Dari Hobi Untuk Dikonsumsi Sendiri

Hmhhh…hatiku sedang berbunga, ternyata hobi menulis walaupun awalnya untuk kalangan sendiri namun ternyata sekarang ada manfaatnya juga. Horeee…satu artikelku lolos sensor untuk dimasukkan dalam Buku Hikmah Kehidupan. Awalnya iseng-iseng masuk milis Sekolah Kehidupan dan Bapak Sinang Bulawan sebagai Kepala Sekolahnya. Ternyata milis ini menyenangkan, Bener-bener Sekolah Kehidupan yang ada dilangit. Sayang waktu ada acara kopdar beberapa waktu lalu tidak bisa hadir karena memang jauh, di Jakarta.
Inilah 30 nama daftar penulis yang artikelnya lolos sensor :

1. "BERTANYALAH KEPADA ALLAH" oleh Udo Yamin Effendi
2. "DALAM BANJIR KUTEMUKAN TUHAN" oleh Nursalam AR
3. "KEAJAIBAN PERTAUBATAN" oleh Rifan Nazhip
4. "SATU MENIT YANG BERARTI" oleh Suhadi
5. "DOA ORANG DIZHALIMI" oleh Arief Akhir Wijaya
6. "MELAWAN LOGIKA" oleh Ummu Alifa
7. "PELAJARAN UNTUK SEBUAH KETIDAKIKHLASAN" oleh Regantini
8. "AKIBAT KESOMBONGANKU" oleh Diyah Ayu
9. "BERNIAGA DENGAN ALLAH" oleh Siu Elha
10. "MANOL" oleh Teha Sugiyo
11. "KISAH SEORANG IBU BERGINJAL SATU" oleh Syafaatus Syarifah
12. "BELAJAR DARI TAKEMOTO-SAN" oleh Titin Fatimah
13. "MAKNA SELEMBAR IJAZAH" oleh Elisa Koraag
14. "DARI PUNCAK PENDAKIAN" oleh Adjie
15. "HITAM DAN PUTIH KEHIDUPAN" oleh Yati Nurhayati
16. "TIADA LETIH BERHARAP" oleh Cahaya Khairani
17. "RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU" oleh Beny Oktaviano
18. "CABUT TEKI HINGGA AKAR" oleh Sribudi Astuti
19. "IZINKAN AKU UNTUK BERSYUKUR" oleh Catur Catrik
20. "MARTABAK BUAT PAK POLISI" oleh Riza Almanfaluthi
21. "AND I CAN TO SAY "I LOVE YOU" oleh Retnadi Nur'aini
22. "DENGAN MUSIBAH KITA BELAJAR DEWASA" oleh Yadi Setiadi
23. "KETIKA HARUS MEMAAFKAN" oleh Fahmi Fariza
24. "PENJEMPUT DI SURGA" oleh Ammy Ramdhania
25. "KETIKA AKU BELAJAR KETENANGAN" oleh Febty Febriani
26. "TRAGEDI H-1" oleh Fatma MM
27. "LELAKI DENGAN SEBUAH MIMPI" oleh Yon's Revolta
28. "MOLA DAN LARA KEDUA" oleh Indarpati
29. "KEJUTAN YANG MENYENANGKAN" oleh A. Suyono
30. "DOAKAN AYAH AGAR BILA BELI SUSU, YA SHAN" oleh Fiyan Arjun
Semoga momen ini memberi saya semangat dan pencerahan untuk terus bergiat dengan menulis. Minimal menulis untuk konsumsi sendiri. Karena menulis bisa mengurai segalanya.

Semoga saya akan senantiasa diberi keteguhan untuk menyebarkan cinta dari pena yang bicara. Eh sekarang udah jadul kalau pake pena ya…oke saya ganti kalimatnya…
Semoga saya diberi keteguhan untuk menyebarkan cinta dari tuts-tuts yang menari. Amin.

Pacarkembang , 18 Juli 2007

baca selanjutnya...

17.7.07

Dik Menyesalkah Kamu Menikah Denganku?

Kalimat itu kudengar dari mulut suamiku tadi malam. Ditengah-tengah kantuk yang mulai menyerang. Aku nggak menjawab, hanya suara merajuk dan merapatkan pelukanku.
Dan pagi ini pertanyaan itu mengusikku, “Dik menyesalkah kamu menikah denganku?”

jika kalimat itu ditanyakan padaku jawaban itu pasti…
Apa yang bisa kusesalkan dari suami sebaik kamu?
Apa yang bisa kusesalkan dari suami seperhatian kamu?
Apa yang bisa kusesalkan dari suami pecinta sepertimu?
Apa yang bisa kusesalkan dari anugerah terindah sepertimu?

Pertanyaan selanjutnya adalah…

Jika pertanyaan itu ganti kulontarkan kedia apa jawabnya ya?
(Nggak ah…takut jawabnya nggak sesuai impian…)

Dipuncak Tangkuban Perahu itu Allah memilihmu untuk mendampingiku.
Semua terasa indah, walaupun bukan obralan kata cinta yang senantiasa kauhamburkan padaku. Namun perhatian dan sikapmu cukuplah itu menjadi jawaban atas tanyaku akan cintamu
Semua terasa nikmat walaupun tak pernah sanjung kata kau layangkan padaku, karena memang semua itu tak perlu. Dengan melihat bahasa tubuhmu aku tahu dan yakin bahwa engkau menikmati setiap detik kehidupan kita.
Semua terasa indah, ketika kerajaan cinta ini kita bangun atas dasar cinta, cinta pada yang mempunyai segala cinta. Walaupun emas permata tak pernah kau sematkan di tubuhku, namun dua malaikat yang kau hadirkan atas gelora buah cinta kita, cukuplah itu menjadi perhiasan dunia yang tak ternilai oleh apapun juga.

Semoga usiamu menjadi usia yang penuh manfaat
Semoga hidupmu adalah kesuksesan…
Sukses untuk agamamu dunia akhirat
Sukses untuk keluargamu,
Sukses untuk sesamamu..

Bi Barakatillah, 12 Juli 2007
Aku(Mas Gangga dan Adek Gautama) yang senantiasa mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatan dan kebarakahan hidupmu…

baca selanjutnya...