12.3.07

6 Tahun Pernikahan

Pernikahan adalah sebuah kompromi, kompromi untuk mencapai deal dalam berniaga denganNya. Sehingga pada akhirnya jiwa ini hanya tergadai untukNya.

Anak-anak adalah buah cinta, buah dari keagungan cinta dari dua manusia yang berjanji didepan Tuhannya. Berjanji untuk menyempurnakan separuh diennya.

Namun jika dalam prosesnya, pernikahan kadang membuat lalai dari tujuannya,
Kadang membuat terlena dari dermaga yang ditujunya,
sungguh semoga luas ampunanNya melebihi murkaNya.

Namun jika dalam prosesnya, amanah anak-anak menjadi penghambat cintaNya
Anak-anak menjadikan lupa akan tujuan awalnya
Sungguh semoga ridhoNya merengkuh segalanya

Namun jika dalam prosesnya, harta menjadi berhala
Atas nama cinta, harta menjadi yang utama,
Sungguh semoga hanya karena kemurahan cintaNya kita terampuni

Semoga setelah enam tahun mengayuh biduk untuk mencapai dermaga impian
Allah selalu berikan keteguhan..
Keteguhan iman..
Keteguhan cinta..
Keteguhan dalam berkompromi..
Kompromi untuk mencapai deal dalam berniaga
Sehingga jiwa ini hanya tergadai untukNya
Semoga…


12 Maret 2007
mensyukuri 6 tahun perjalanan cinta kami
yang semoga sakinah mawaddah wa rahmah
dunya wal akhirat

Amin

baca selanjutnya...

Bersahabat dengan Alam

Di Jawa Pos hari Minggu tgl 11 Februari salah seorang wartawan koran tersebut menulis dengan judul yang cukup menggelitik, Tidak Mampu Melawan Alam, Bersahabatlah dengan Alam. Saya tertarik karena sudah beberapa tahun kebelakang negeri kita tergerus oleh fenomana alam. Mulai tsunami, gempa, gunung meletus, kecelakaan transportasi baik darat, laut, dan udara yang terus bertubi-tubi menghajar kita, lumpur Lapindo, dan masih banyak lagi. Kata orang alam sedang “murka”, sebenarnya kalau kita mau peka sebelum murka alam telah memberi, warning, namun kita sibuk menyalahkan alam. Karena taqdir, karena kondisi alam. Pertanyaannya adalah alam bisa sebegitu rusak oleh ulah siapa juga? Saya setuju dengan Mbah Maridjan bahwa alam itu juga hidup, punya ruh, yang ketika ia di cecar dengan gangguan ia juga punya ambang batas kesabaran. Alam punya filter tersendiri untuk menyeimbangkan keadaan, namun justru lewat tangan-tangan manusia yang sebenarnya ia sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi ini alam menjadi rusak. Justru dari tangan makhluk terbaik yang pernah diciptakanNya alam menjadi tak berdaya. Menurut saya alam tidak sedang murka, namun justru alam sudah tak mampu mempertahankan kelangsungan dan keseimbangannya sehingga terjadilah bencana-bencana. Alam menjadi tak seimbang dan keharmonisannya terganggu.
Saya tak ingin memperpanjang penyebab fenomena ‘ketidakberdayaan’ alam, karena itu sebuah lingkaran setan yang tak akan ada awal dan ujungnya. Seperti kita memperdebatkan, duluan mana ayam dan telor?. Saya tidak ingin mencari siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab. Biarkan nurani yang lebih memfilter moral pemimpin dan orang yang punya kewenangan atas segala musibah yang melanda negeri ini. Yang ingin saya ceritakan adalah fenomena lain dimana jika mampu bersahabat dengan alam ternyata alam juga tidak tinggal diam, Alam tahu bagaimana harus berterima kasih.
Adalah Bagas Kurniawan pemilik Ninety Nine Trees Community Kampung Rusa. Ia mempunyai bisnis yang mampu berdampingan dengan alam membentuk suatu harmoni yang manis. Ia mempunyai lahan sekitar 5 hektare. Diatas lahan itu terbangun semacam komunitas yang benar-benar hidup dari alam. Mereka terdiri dari sepuluh keluarga. Mereka menanam padi sendiri, sayuran, buah-buahan, serta beternak ikan. Awalnya lahan ini berupa tanah gundul yang kemudian mereka tanami pohon keras seperti nangka, durian, rambutan, dsb, yang ketika lahan itu siap untuk dihuni tanaman itu sudah menghasilkan buah yang dapat mereka konsumsi sendiri. Bahkan sekarang menjadi display produk bagi Masyarakat Pertanian Organik Indonesia, juga menjadi tempat outbound, untuk berbagai sekolah dan instansi. Jadi kalau paradigma orang selama ini mencari uang diluar rumah maka paradigma itu berlaku terbalik bagi mereka, dengan bersahabat dengan alam uang datang ke rumah mereka, bukan mereka yang mencari uang.
Adalah, Om Pran, saudara dari suamiku. Ia hidup sendiri di lereng gunung Lawu. Luas rumahnya saya tak tahu persisnya, yang jelas luas..dan dipenuhi tanaman-tanaman langka dan mahal-mahal. Bukan bermaksud berbisnis, tapi banyak orang yang datang ke rumahnya meminta untuk membeli tanaman yang ada di rumahnya, termasuk perusahaan batik kenamaan Keris Galery. Tak ada orang yang tak kerasan tinggal di rumahnya, semua serasa menyatu dengan alam. Rumahnya sendiri kecil, untuk ukuran sebuah keluarga, namun karena beliau hidup sendiri, jadi cukuplah. Halaman rumahnya dipenuhi gazebo dan tanaman-tanaman dengan berbagai corak dan warna, dari yang sekelas rumput sampai kelas aglonemia, adenium, anggrek, tanaman teratai, dsb. Belum pohon-pohon besar yang tak berbilang. Dan satu hal yang unik beliau ini selalu memperlakukan tanaman-tanamannya bak seorang teman, jadi ya diajak ngobrol sambil dilap pakai serbet, di pupuk dengan baik, dan disiram dengan cukup. Dengan hatinya beliau berdialog dengan tanaman-tanaman itu. Harga tanaman yang terbeli teman-temannya mencapai 50 juta. Itu jika nilai uang yang dijadikan ukuran keberhasilan.
Adalah KH Mahfud Syaubari, yang mencoba memadukan konsep keseimbangan alam pada rumahnya yang asri di Pacet Mojokerto. Rumahnya yang menyatu dengan Pondok Pesantren binaannya, serta sebuah bangunan Masjid yang besar di samping rumah induk. Dirumahnya yang cenderung berbukit-bukit mengikuti pola alam di Pacet, dibawahnya mengalir anak sungai yang cukup deras khas sungai di daerah pegunungan. Air itu tidak dibiarkan mengalir tanpa dimanfaatkan, tapi ditampung di kolam dengan beberapa jenis ikan didalamnya. Di kolam air deras ini ikan akan cepat tumbuh besar. Bahkan kolam ikan dibawah kamar tamu utama, ikannya sebesar anak seusia dua tahun jadi besar-besar. Diatas kolam yang lain dibelakang masjid di taruh kandang ayam, dan dipinggir-pinggir kolam ditanami terong, kacang, talas, cabai, serta beberapa sayuran lain. Turun kebawah kita dapati tanaman jagung, padi, bawang, umbi-umbian, juga beberapa pohon besar seperti durian, nangka, rambutan, apel, petai, alpukat, dsb. Kyai satu ini selalu memanjakan tamu yang berkunjung ke rumahnya, setiap tamu yang datang harus makan, dan yang pasti makan dari masakan yang bahannya didapat dari kebun sendiri. Ada gulai ikan, lalapan, sayur, penyet terong, jamur goreng, n so on. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dapur hanya memerlukan bumbu dan gas untuk api saja, karena kalau bahan makanan cukup memanen hasil kebun sendiri.
Saya yakin masih sangat buanyak contoh-contoh tentang konsep bagaimana bersahabat dengan alam, dan satu yang dapat kita tarik benang merah, bagaimanapun alam mampu berterimakasih kepada manusia.
Lalu akankah manusia yang notabene makhluk sempurna yang pernah diciptakan-Nya terus menggerus alam demi memenuhi ambisi sesaat? Ingatlah peringatan Allah dalam firmanNya dalam surat ayat :
Dalam QS An Nahl : 66
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih diantara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

QS Ibrahim : 7
Dan ( ingatlah juga ) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.

Dalam QS An Nahl : 112
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.

Dan diteruskan di QS Al Anfal : 53
Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam QS Al Hijr : 19-20
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keprluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.

Semoga goresan ini memberi inspirasi dan men-spirit pada kita untuk lebih berbaik-baik dengan alam. Tidak harus yang besar-besar seperti yang dilakukan oleh tiga orang contoh diatas, namun dengan membuang sampah sesuai tempatnya, dengan menghemat air, menghemat pemakaian listrik, menghindari pemakaian plastik, dan styrofoam, lebih care dengan kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi.
Karena pada dasarnya alam diciptakan untuk kesejahteraan kita, sejauh kita mampu mengelolanya dengan seimbang.

12.03.07
Kuselesaikan di sela-sela demam karena flu berat

baca selanjutnya...

9.3.07

Memandang Musibah Sebagai Nikmat Cinta

Adalah sahabatku yang sekarang sedang berjuang untuk sembuh dari kanker payudara stadium 4. Memandang dengan mataku, rasaku ingin menangis aja, dia yang sekarang gundul efek dari kemo, kalau bicara menggeh-menggeh, badannya yang dulu subur, turun sampai hampir 25 kg, memar dan hitam-hitam di lengan tangannya. Sungguh pemandangan mata yang mengiris sembilu.
Dia kukenal sebagai orang yang baik, bahkan beberapa bulan sebelum ia sakit ia menjadi motor untuk mengumpulkan dana bagi istri salah seorang karyawan di kantor yang terkena kanker rahim stadium 4 juga. Beberapa bulan terakhir ia sibuk mengajari ibu-ibu dan mbak-mbak yang ingin belajar pita sulam, termasuk aku yang jadi murid pertamanya. Sering ngajari teman-teman bikin tas manik-manik, rajutan, parsel, kalung & gelang manik-manik n so on. Dia memang hobi bikin kerajinan-kerajinan seperti itu, dan didukung jiwa dagangnya yang ulet. Jika tugas ke Jakarta di sela waktu luangnya digunakan untuk kursus bikin coklat. Dan rencananya lebaran kemaren mau dipasarkan. Bahkan untuk memasarkan hasil sulam kerudung, kami sepakat joinan bikin kardusnya. Biar lebih eksklusif, katanya waktu itu.
Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari sahabatku ini. Tentang perjuangan, tentang sikap uletnya, tentang ketegarannya yang luar biasa dalam menghadapi problem kehidupannya yang orang lain memandang sangat komplek, tentang kemampuannya mendengarkan orang lain. Pernah aku perhatikan dia begitu enjoynya berbicara dengan loper koran yang biasa ke kantor, serius banget, dan dia lebih banyak jadi pendengar setia. Kini ia hanya bisa terbaring dan sedang menjalani kemoterapi yang kelima, dijadwalkan akan kemo ke enam 3 minggu lagi, namun sekarang kondisinya drop banget. Karena efek obat kemo ke-5 yang luar biasa ke tubuhnya, hari Jumat kemaren ia sempat tak sadar, ah…Ya Allah semoga segalanya akan menjadi lebih baik.
Ketika pertama kali mendengar vonis dokter tentang penyakitnya, kita semua terhenyak, tak percaya, karena saat itu ia masih sibuk ikut membantu Hughes dan krunya di PT PAL untuk acara Si Kuncung di Trans TV. Setelah itu ia merasa punggungnya sakit, dan ketika dibawa ke dokter vonisnya kanker payudara stadium IV. Manusia boleh berharap, Allah jua Sang Penentu. Kami menangis, dalam hati saya pribadi sempat terlontar tanya konyol “Kenapa harus dia?” Setelah ia mulai ‘tenggelam’ dalam cintaNya? Mulai kaffah dengan agamanya? Setelah ia begitu baikkkk pada kami? Setelah ia menjadi guru yang tanpa pamrih buat kami?Setelah …terlalu banyak setelah…Kenapa YA Allah? Kalau kami boleh meminta, jangan dia!
Astaghfirullah. Astaghfirullahhal adzim . Itulah kepicikan alam pikir manusia, yang tak mampu menyelami arti cintaNya. Itulah keterbatasan cara pandang manusia. Kata Abah, kadang musibah menjadi tersingkapnya hijab kita pada Allah. Sakit mampu menjadi penggugur dosa-dosa yang melekat, tinggal bagaimana kita menyikapi. Apakah kita akan meleburkan diri dalam nikmat Allah berupa sakit dan musibah yang lain, atau kita menyikapi dengan gerutuan yang justru akan melelahkan.
Allah menakar cinta kita melalui firmanNya, dalam surat Al Ankaabut ayat 2,
“ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?”
Justru semakin kita dekat dengan Allah, semakin tinggi pula ujian cinta Allah pada kita. Itu rumus yang kadang menguras energi kesabaran kita. Jika kita mampu bertahan atau bahkan semakin meningkatkan keteguhan iman kita, disitulah peningkatan kualitas kita sebagai hamba telah teruji dengan baik. Sungguh, semoga kita tidak akan terjebak oleh pikiran pintas, dan semoga Allah memberikan kita kefahaman, sehingga apapun yang kita pandang, semua hanyalah ridho dan cinta Allah semata. Semoga….

10 Shafar 1428 H
Didedikasikan untuk Mbak Lientje Lindawati.
Allah Maha Pencemburu, maka Ia tak ingin diduakan
Hanya engkau dan Ia
Semoga Allah membarakahi dan meridhoi keluarga dan hidupmu

baca selanjutnya...

22.2.07

2 IBUKU

Adalah Ibu Kusniyah Rahayu, binti Gus Komaruddin yang dalam rahimnya Allah meniupkan ruh-ku dan menitipkan jasadku selama sembilan bulan lebih. Dan dari jalan lahirnya aku mengenal dunia. Dengan sepenuh kasih sayangnya aku tumbuh, aku mencecap nikmat dunia.
Ada ungkapan yang sangat sederhana karena aku tak mampu mengungkap kalimat apalagi yang mampu menggambarkannya tentang sosok ibuku ini.

Ibu,
Jika dunia adalah padang untuk mencari Cinta
Sungguh engkaulah oase bagiku
Untuk sejenak berhenti untuk menghela energi
Dan melanjutkan pencarian
Dalam ruang yang tak berujung dan tak berbatas.

Ibu,
jika akhirat adalah pertemuan Cinta
dalam haribaan Cintamu aku ingin melebur
Karena sungguh yang kurindu bukan jasad yang melekat,
Namun karena kasih sayang dan Cinta
Yang sesungguhnya pancaran Asmau’ul Husna


Dan setelah berjuang melawan diabetes mellitus selama kurang lebih 25 tahun, akhirnya beliau berpulang disampingku hari Jum’at kliwon 10 Nopember 2000. Semoga Allah membalas kebesaran dan keagungan cintanya kepada kami, karena hanya Allahlah sebaik-baik pembalas cinta.

Adalah ibu Musrifah binti Kyai Anwar, yang dalam rahimnya Allah tiupkan ruh suamiku dan menitipkan jasadnya selama sembilan bulan lebih. Dan dari jalan lahirnya suamiku mengenal dunia. Lewat nasabnya anak-anakku terlahir. Dan hubungan kami tak lagi bisa disebut menantu dan mertua, karena yang ada diantara kami hanya cinta. Dengan beliau aku banyak belajar, tentang kehidupan, tentang merawat anak, tentang memasak, bahkan belajar tentang berdampingan dengan sakaratul maut . Beliau ibuku juga. Kebesaran cintaku biarlah Allah dan beliau saja yang tahu. Yang jelas aku sangat mencintai beliau apapaun dan bagaimanapun beliau. Dan aku tersentak kaget tak percaya ketika di subuh hari Ahad tgl 18 Februari 2007 harus mendengar beliau berpulang ke Rahmatullah. Aku menangis, aku sedih karena justru disaat yang bersamaan aku harus menunggui anakku yg nomor dua di Rumah Sakit karena muntaber sejak hari Jum’at. Aku harus merelakan suamiku dan Mas Gangga pulang ke Probolinggo. Dalam hati aku mempertanyakan “Ya Allah Engkau tahu betapa besar cinta ini, kenapa Engkau tak memberi kesempatan kepadaku untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau? Disaat bersamaan aku seperti disentakkan oleh satu kesadaran baru bahwa “Jika engkau mengaku mencintainya kamu tidak boleh memberikan penghormatan terakhir kepadanya, karena beliau menginginkan penghormatanmu tidak berhenti ketika beliau meninggal. Kalau engkau mencintainya hormatilah beliau sepanjang hayat hidupmu! Kenanglah beliau disepanjang untaian do'amu, Subhanallah.

Apapun dan bagaimanapun beliau-beliau yang kuceritakan diatas adalah wanita-wanita perkasa yang pernah mengukir jiwa ragaku, menjadi sebuah pahatan yang kaya akan lekuk-lekuk kehidupan. Terimakasih, hanya itu yang mampu kuucap, dan kalaupun kelak di akhirat Allah memberikanku kesempatan untuk bersaksi tentang dua orang itu, aku ingin berkata, Ya Allah, Aku bersaksi mereka berdua telah mengantarku mengenal cintaMu, maka cintailah mereka berdua, dan lapangkanlah kuburnya, kumpulkanlah mereka bersama kekasihMu. Amin.

Ahad, 18 Feb 2007
Aku yang tengah berduka, yang merasakan sunyi di hatiku, dan ada sebagian hatiku yang terhempas hilang

baca selanjutnya...

6.2.07

Belajar Rambu-rambu Lalu Lintas


Pada acara pertemuan di sekolah Mas Gangga, diuraikan agenda kegiatan selama semester genap ini. Salah satunya agenda di bulan ini adalah Lomba Balita Cerdas, dan untuk usia Mas Gangga yang empat tahun lebih dikit salah satunya adalah Reli Sepeda. Dia langsung antusias, tapi saya bilang sama Mas Gangga relinya tidak untuk balapan nyampe, tapi untuk belajar rambu-rambu lalu lintas. Boleh juga lomba ini pikirku. Pas lagi on the way, kesempatan untuk belajar rambu-rambu ama Mas Gangga. Kurang lebih dialognya gini, :
“Kalo lampu merah artinya apa Mas?”pas kita berhenti di lampu merah
“Ya, berhenti,”jawabnya pede. “Good,”jawabku.
“Kalo lampu kuning boleh jalan nggak?” terusku. “Ya boleh, tapi harus hati-hati!” jawabnya. “Sip,”jawabku. Kalau hijau emang dia udah tau, boleh jalan.
Pas di depan Delta Plaza ada rambu-rambu S dicoret, Ayahnya nerangin bla-bla-bla. Trus ada huruf P dicoret, trus apa artinya kalau gak dicoret, n so on. Dengan praktek langsung dijalan, hasilnya lumayan, dengan satu kali jalan dia sudah banyak yang hapal. Saking senengnya setiap dijalan ada rambu-rambu pasti ditanyain ke Mas Gangga. Dan dengan senang hati dia menjawab. Padahal biasanya kalo berbau belajar gitu dia suka bosen. Pas di jalan Urip Sumoharjo jalan agak macet karena ada Pasar Keputran yang parkirnya agak tumpah ke jalan raya, ada rambu-rambu P dicoret, “Nah kalo itu artinya apa Mas?” tanyaku. “Dilarang emm Parkir!” jawabnya mantap, tapi saking asyiknya kita nggak liat kalo dibawah rambu-rambu itu berjejer sepeda motor yang diparkir. Begitu sadar, dalam hati aku berkata semoga Mas Gangga nggak liat. Tapi belum selesai aku mbatin, terdengar suaranya
“Tapi kok banyak sepeda motor yang parkir di situ? Kenapa Ayah?” Nah kena kau?!
“Yah…itu contoh yang nggak bener Mas, mestinya gak boleh parkir disitu.”jawab Ayah dengan agak manyun.
“Kok nggak ditangkap Pak Polisi?”tanyanya lagi, kayaknya dia belum puas.
Nah lo?!!Gimana nih Pak Polisi?

Ahad, 4Februari 2007
Dalam sebuah perjalanan usai menjenguk sahabat yg sedang berjuang melawan Ca Mamma stadium 4
.

baca selanjutnya...